Trump Sebut Serangan yang Tewaskan Khamenei Kelewatan
Donald Trump menyebut serangan AS dan Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei mungkin sudah kelewatan. Pernyataannya muncul saat negosiasi dengan Iran masih sulit.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui serangan AS dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mungkin sudah kelewatan. Pernyataan itu disampaikan dalam rapat umum menjelang pemilu sela di Youngstown, Ohio, pada Senin (12/10), ketika Trump membahas sulitnya negosiasi dengan Iran.
“Kami mungkin sudah kelewatan dengan para pemimpin, tapi karena kami tak tahu lagi siapa yang kita hadapi,” kata Trump, seperti dikutip Jerusalem Post. Ia kemudian menambahkan, “Tak ada seorang pun yang ingin menjadi presiden Iran.”
Trump tidak merinci lebih jauh maksud ucapannya tentang para pemimpin Iran. Namun, pernyataan tersebut muncul setelah serangan AS dan Israel pada akhir Februari menewaskan Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran. Di forum yang sama, Trump juga menegaskan kembali klaim mengenai kekuatan militer Iran dan program nuklir negara itu.
Trump soroti sulitnya berunding dengan Iran
Trump mengaitkan komentarnya tentang para pemimpin Iran dengan kesulitan yang dihadapi Amerika Serikat dalam bernegosiasi dengan Teheran. Ia menggambarkan situasi itu sebagai tidak jelas, dengan alasan AS tidak mengetahui siapa yang sedang dihadapi dalam proses tersebut.
Ucapan bahwa tidak ada yang ingin menjadi presiden Iran menyusul pengakuannya bahwa tindakan terhadap para pemimpin negara itu mungkin sudah kelewatan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana kampanye menjelang pemilu sela, tetapi bahan berita tidak merinci apakah Trump menguraikan dampak politik atau diplomatik dari komentarnya.
Isu perundingan juga disinggung Wakil Presiden AS JD Vance. Sebelum pernyataan Trump, Vance menyatakan belum yakin dengan keputusan pemimpin Iran saat ini terkait negosiasi. Ia menekankan bahwa kesepakatan apa pun untuk mengakhiri perang harus membuat Iran mengurangi pengayaan nuklir secara signifikan.
Trump sendiri kembali menyampaikan sikap bahwa Iran tidak boleh memiliki program nuklir. Ia tidak memberikan rincian baru dalam pernyataan yang dikutip tersebut mengenai bentuk kesepakatan yang diinginkan Washington atau perkembangan perundingan dengan Teheran.
Klaim Trump soal kekuatan militer Iran
Di hadapan pendukungnya, Trump mengklaim Amerika Serikat telah menghancurkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara Iran. Ia juga menyebut Iran kehilangan 159 kapal Angkatan Laut. Angka dan kondisi yang disampaikan itu merupakan klaim Trump dalam rapat umum, bukan keterangan terpisah yang dijabarkan dalam laporan tersebut.
Trump menggambarkan kapal-kapal itu dengan ungkapan, “beristirahat dengan indah di kapal laut.” Pernyataan tersebut disampaikannya ketika menonjolkan hasil operasi militer AS, di tengah pembicaraan mengenai perang dan kesulitan mencapai kesepakatan dengan Iran.
Serangan AS dan Israel pada akhir Februari menjadi latar utama situasi itu. Operasi tersebut menewaskan Khamenei dan pejabat tinggi pertahanan Iran. Setelah serangan, Iran melancarkan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Timur Tengah dan menutup Selat Hormuz, menurut laporan yang menjadi sumber berita ini.
Perang dan negosiasi masih menjadi sorotan
Rangkaian pernyataan Trump, Vance, dan balasan Iran memperlihatkan bahwa isu militer dan negosiasi berjalan beriringan. Trump menyampaikan klaim mengenai kerusakan pada kekuatan militer Iran, sementara Vance menempatkan pengurangan pengayaan nuklir sebagai syarat penting dalam kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Belum ada rincian lebih lanjut dalam laporan mengenai langkah berikutnya dalam perundingan ataupun keputusan pemimpin Iran yang dirujuk Vance. Yang jelas, pengakuan Trump bahwa serangan terhadap para pemimpin Iran mungkin sudah kelewatan muncul ketika perang belum berakhir dan kedua pihak masih berhadapan dengan persoalan yang sama: bagaimana menghentikan konflik tanpa mengabaikan tuntutan masing-masing.
Perkembangan negosiasi dan situasi di Selat Hormuz akan menjadi bagian penting untuk dicermati. Pernyataan terbaru para pejabat AS memberi gambaran tentang posisi Washington, tetapi belum menjawab apakah ruang untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran akan terbuka.