Trump Sebut Fordow Pabrik Narkoba, Gedung Putih Tak Menjelaskan
Trump menyebut fasilitas nuklir Fordow sebagai pabrik narkoba saat berkampanye di Oklahoma. Gedung Putih tak menjelaskan klaim itu, sementara ahli nuklir menyebutnya tidak akurat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut fasilitas nuklir Fordow di Iran sebagai “pabrik narkoba” saat berkampanye di Oklahoma, Kamis (1/10) waktu setempat. Pernyataan itu memicu kebingungan karena tak ada penjelasan sebelumnya bahwa fasilitas pengayaan uranium tersebut digunakan untuk memproduksi narkoba.
Trump menyampaikan klaim itu ketika membahas serangan militer AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025. Operasi yang dikenal sebagai “Operation Midnight Hammer” tersebut, menurut Trump, melibatkan pesawat pengebom siluman yang menjatuhkan bom ke Fordow melalui saluran ventilasi.
Gedung Putih tidak memberikan penjelasan substantif ketika dimintai keterangan oleh CNN. Seorang ajudan hanya meminta media merujuk pada komentar presiden, tanpa menguraikan dasar penyebutan fasilitas nuklir itu sebagai pabrik narkoba.
Klaim Trump tentang serangan ke Fordow
Dalam pidatonya, Trump menggambarkan serangan yang dilakukan pada dini hari. Ia mengatakan pesawat-pesawat AS menjatuhkan bom dalam kondisi gelap dan setiap bom masuk melalui saluran udara menuju fasilitas yang ia sebut sebagai “pabrik narkoba”.
“Itulah yang mereka lakukan—mereka nuklir dan narkoba,” kata Trump. Ia kemudian menyebut fasilitas yang menurutnya sekaligus menjadi pabrik narkoba dan pabrik nuklir itu telah dihantam dengan sangat keras.
Pernyataan tersebut bukan sekadar menyebut adanya aktivitas narkoba di Iran. Trump mengaitkannya langsung dengan fasilitas Fordow yang menjadi sasaran serangan, tetapi tidak menyampaikan rincian atau bukti mengenai dugaan produksi narkoba di lokasi itu.
CNN meminta Gedung Putih menjelaskan ucapan tersebut. Jawaban yang diterima lewat email pada Jumat (2/10) hanya berbunyi, “Silakan merujuk pada komentar POTUS.” Gedung Putih tidak mengonfirmasi apakah Trump salah bicara atau memiliki dasar tertentu untuk klaimnya.
Ahli nuklir membantah kaitan dengan narkoba
James Acton, salah satu direktur Program Kebijakan Nuklir di Carnegie Endowment for International Peace, mengatakan klaim itu baru baginya. Ia menyebut belum pernah mendengar tuduhan—baik yang kredibel maupun tidak—bahwa Fordow digunakan untuk memproduksi narkoba.
Acton menjelaskan bahwa Iran pernah menyebut obat-obatan legal bernama radiofarmaka diproduksi menggunakan reaktor nuklir. Radiofarmaka merupakan obat yang dimanfaatkan untuk mendiagnosis dan menangani sejumlah kondisi medis. Namun, hal itu tidak serta-merta mendukung pernyataan Trump mengenai Fordow.
Menurut Acton, fasilitas yang dimaksud Trump adalah tempat pengayaan uranium, bukan reaktor nuklir. Karena itu, bahkan jika ucapan presiden ditafsirkan secara paling lunak sebagai rujukan pada produksi radiofarmaka, klaim tersebut tetap tidak akurat.
Acton menilai kemungkinan yang lebih masuk akal adalah Trump keliru saat berbicara. Namun, presiden tidak mengoreksi ucapannya dalam pidato itu dan justru beberapa kali kembali menyebut fasilitas tersebut sebagai pabrik narkoba.
Konteks pidato diduga memicu kekeliruan
Sebelum membahas fasilitas Iran, Trump berbicara tentang upayanya memberantas perdagangan narkoba ilegal di kawasan Karibia. Ia juga menyinggung operasi militer AS yang menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro.
Urutan topik itu, menurut penilaian CNN, mungkin membuat Trump mencampuradukkan pembahasan perdagangan narkoba dengan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Meski demikian, media tersebut mencatat Trump mengulang klaimnya beberapa kali, alih-alih memperbaiki pernyataan awal.
Trump sebelumnya kerap tidak mengakui kekeliruan kecil dalam ucapannya dan memilih meneruskan pernyataan seolah-olah memang demikian maksudnya. Dalam kasus Fordow, belum ada klarifikasi dari Gedung Putih yang memastikan apakah penyebutan “pabrik narkoba” merupakan salah ucap atau klaim yang didasarkan pada informasi tertentu.
Hingga ada penjelasan lebih lanjut, pernyataan Trump tetap bertentangan dengan keterangan ahli yang dikutip CNN mengenai fungsi Fordow. Perbedaan ini membuat kejelasan soal dasar klaim tersebut—serta ketepatan ucapan presiden mengenai fasilitas yang diserang—masih menjadi pertanyaan.