IRGC: Ancaman terhadap Iran Akan Dibalas

IRGC memperingatkan setiap agresi terhadap Iran akan dibalas dengan serangan yang lebih menyakitkan. Pernyataan itu disampaikan saat memperingati dua tahun Operasi Janji Sejati 2.

irgc-ancaman-terhadap-iran-akan-dibalas

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan setiap agresi terhadap negaranya akan dibalas dengan serangan yang lebih menyakitkan. Pernyataan itu disampaikan dalam peringatan dua tahun Operasi Janji Sejati 2, yang menurut IRGC menjadi pesan bahwa “era ancaman tanpa biaya telah berakhir”.

Dalam pernyataan yang dikutip Pars Today dari IRIB pada Jumat, 2 Oktober 2026, IRGC menyebut operasi tersebut sebagai respons atas kematian sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan Iran dan Front Perlawanan. Operasi itu, menurut versi IRGC, melibatkan gelombang rudal dan drone presisi yang diarahkan ke wilayah pendudukan.

Korps tersebut juga memperingatkan bahwa respons serupa dapat diberikan jika terjadi ancaman, serangan, atau kesalahan perhitungan dari Amerika Serikat dan Israel maupun sekutu regional mereka. Pernyataan itu merupakan sikap resmi IRGC; klaim-klaim di dalamnya disampaikan oleh pihak Iran dan tidak dijabarkan sebagai hasil verifikasi independen dalam laporan tersebut.

Operasi Janji Sejati 2 disebut sebagai pesan deterensi

IRGC menggambarkan Operasi Janji Sejati 2 sebagai hukuman atas agresi dan kejahatan musuh yang, menurut pernyataan itu, tidak mendapat tanggapan memadai dari forum-forum global. Namun, pesan yang ingin ditegaskan tidak berhenti pada pembalasan atas peristiwa sebelumnya. Teheran menyebut operasi tersebut sebagai peringatan bahwa setiap tindakan terhadap Iran akan menimbulkan konsekuensi.

Dalam narasi IRGC, serangan itu menjadi pertunjukan kemampuan Pasukan Dirgantara korps tersebut sekaligus mengguncang citra kekuatan Israel. Pernyataan itu menyebut rudal dan drone presisi diluncurkan dalam gelombang serangan, serta mengklaim operasi tersebut memperlihatkan “keruntuhan” keagungan rezim Zionis di hadapan dunia.

IRGC menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai tanggapan atas kematian Ismail Haniyeh, Sayid Hassan Nasrallah, dan Mayor Jenderal Abbas Nilforoushan. Ketiganya disebut dalam pernyataan itu sebagai tokoh yang menjadi alasan bagi Iran untuk melancarkan serangan. Pars Today tidak menyertakan rincian tambahan mengenai jalannya operasi dalam laporan yang menjadi sumber berita ini.

IRGC mengenang para komandan operasi

Pernyataan tersebut juga memberi tempat khusus kepada sejumlah komandan yang disebut berperan dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi. Letnan Jenderal Mohammad Bagheri digambarkan sebagai sosok yang memberi bimbingan strategis dan merancang keseimbangan deterensi. Sementara itu, Letnan Jenderal Hossein Salami disebut memimpin dengan keberanian dan membawa semangat perlawanan.

Nama Mayor Jenderal Amir Ali Hajizadeh juga disebut dalam kaitan dengan kemampuan teknis dan daya ofensif rudal Iran. Adapun Mayor Jenderal Mahmoud Bagheri digambarkan memiliki kebijaksanaan operasional dan semangat jihad. IRGC menyampaikan penghormatan kepada para tokoh tersebut serta para syuhada yang disebut dalam pernyataan resminya.

Penyebutan para komandan itu menjadi bagian dari cara IRGC membingkai Operasi Janji Sejati 2: bukan semata aksi militer, melainkan operasi yang dinilai mencerminkan kemampuan, kepemimpinan, dan daya gentar Iran. Korps tersebut menyebut keberhasilan operasi sebagai kejutan bagi Israel dan para pendukungnya, termasuk pemerintah Amerika Serikat.

Teheran tegaskan kesiapan menghadapi ancaman

Di bagian akhir pernyataan, IRGC menyatakan angkatan bersenjata Iran tetap berada dalam kondisi siaga. Korps itu mengklaim memiliki penguasaan intelijen atas aset dan wilayah yang disebutnya terpapar kehadiran Amerika-Israel, serta menyatakan siap memberikan respons segera dan lebih mematikan daripada Operasi Janji Sejati 2 jika terjadi agresi baru.

IRGC juga mengklaim perannya bersama angkatan bersenjata lain dalam “Perang Paksa Kedua dan Ketiga Amerika-Zionis”. Dalam narasi korps tersebut, tekanan militer Iran turut mendorong Amerika Serikat memohon gencatan senjata. Klaim itu disampaikan sebagai bagian dari pesan politik IRGC mengenai kekuatan dan posisi lembaga tersebut di dalam Republik Islam.

Pernyataan itu sekaligus ditujukan kepada masyarakat Iran dan bangsa-bangsa yang disebut membantu Front Perlawanan di kawasan. IRGC menyebut dirinya teguh mengikuti warisan para pemimpin revolusi dan arahan pemimpin tertinggi Iran. Pesan utamanya jelas: korps tersebut ingin menunjukkan kesiapan mempertahankan negara sekaligus memperingatkan lawan agar memperhitungkan risiko dari setiap langkah militer.

Pernyataan keras itu menambah penegasan sikap deterensi Iran, tetapi belum merinci tindakan apa yang akan diambil jika ancaman yang disebut terjadi. Karena itu, perkembangan hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel akan menjadi penentu apakah peringatan IRGC berhenti sebagai pesan politik atau berkembang menjadi langkah militer berikutnya.

Duniafakta