H. pylori: Bakteri yang Mengubah Cara Mengobati Tukak
Penemuan H. pylori oleh Robin Warren dan Barry Marshall mengguncang pemahaman lama tentang tukak lambung. Kini, infeksi dapat diperiksa dan ditangani dengan terapi yang tepat.
Penemuan Helicobacter pylori (H. pylori) mengubah pemahaman dokter tentang tukak lambung. Pada awal 1980-an, Robin Warren menemukan bakteri berbentuk melengkung di jaringan lambung pasien. Temuan itu menantang keyakinan medis saat itu bahwa tukak terutama berkaitan dengan stres, pola hidup, atau produksi asam berlebih.
Warren melihat bakteri tersebut kerap muncul di area yang mengalami peradangan. Rasa ingin tahu itu kemudian mempertemukannya dengan Barry Marshall, dokter muda yang ikut meneliti sampel lambung pasien. Kerja mereka membuka jalan bagi pendekatan baru: mencari dan mengatasi penyebab infeksi, bukan hanya meredakan asam lambung.
Temuan di lambung yang sempat diragukan
Gagasan bahwa bakteri dapat hidup di lingkungan lambung yang asam terdengar sulit dipercaya. Karena itu, ketika Warren dan Marshall melaporkan temuan mereka, sebagian kalangan menganggap bakteri tersebut mungkin hanya pencemar sampel atau mikroba yang kebetulan berada di sana.
Keduanya terus memeriksa sampel dan akhirnya berhasil menumbuhkan bakteri yang sebelumnya belum dikenal. Mereka menemukannya pada sebagian besar pasien dengan gastritis aktif serta tukak lambung dan tukak pada usus dua belas jari. Hubungan antara bakteri dan peradangan itu memberi petunjuk penting, tetapi belum cukup untuk meyakinkan semua pihak.
Marshall kemudian mengambil langkah yang tidak biasa. Ia menelan bakteri hasil biakan itu untuk menguji dugaan bahwa mikroba tersebut dapat memicu penyakit. Sekitar 10 hari kemudian, pemeriksaan menunjukkan lambungnya mengalami peradangan. Marshall juga merasakan gejala sakit selama hampir dua minggu.
Eksperimen tersebut berisiko dan bukan cara yang patut ditiru. Namun, bersama bukti penelitian lain, langkah itu membantu menggeser pandangan medis mengenai penyebab gastritis dan tukak. Pada 2005, Warren dan Marshall menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran atas penemuan H. pylori dan perannya dalam gastritis serta penyakit tukak peptik.
H. pylori bukan satu-satunya penyebab tukak
Penemuan itu tidak berarti setiap keluhan perut disebabkan H. pylori, atau semua tukak memiliki pemicu yang sama. Infeksi bakteri tersebut dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti aspirin, ibuprofen, dan naproksen, kini dikenal sebagai dua penyebab umum tukak pada lambung maupun usus dua belas jari.
OAINS dapat mengurangi perlindungan pada lapisan lambung sehingga bagian itu lebih rentan mengalami kerusakan. Sementara itu, stres sehari-hari dan makanan pedas lama dianggap sebagai penyebab utama tukak. Namun, bukti medis tidak menunjukkan bahwa pola makan berperan besar dalam menyebabkan, mencegah, atau mengobati tukak. Makanan tertentu memang dapat memperburuk rasa tidak nyaman bagi sebagian orang.
Perubahan besar dari penelitian Warren dan Marshall terletak pada kemungkinan menangani penyebab infeksi. Obat penekan asam dapat membantu luka sembuh, tetapi bila H. pylori menjadi pemicunya, infeksi juga perlu diobati. Dengan begitu, risiko tukak kambuh dapat dikurangi pada banyak pasien.
Pemeriksaan dan pengobatan H. pylori
Infeksi H. pylori dapat diperiksa melalui tes napas, tes antigen tinja, atau pemeriksaan sampel jaringan saat endoskopi. Dokter akan mempertimbangkan kondisi pasien dan hasil pemeriksaan untuk menentukan langkah berikutnya.
Jika infeksi terkonfirmasi, pengobatan umumnya menggunakan kombinasi antibiotik dan obat penekan asam. Pemilihan antibiotik perlu memperhitungkan kemungkinan resistansi bakteri. Pasien juga perlu menghabiskan obat sesuai resep, bukan menghentikannya ketika gejala mulai membaik.
Dokter biasanya menganjurkan pemeriksaan ulang setelah terapi untuk memastikan bakteri telah hilang. Langkah ini penting karena keluhan yang mereda belum tentu berarti infeksi sudah tuntas. Bila tukak tetap berulang, penyebab lain—termasuk penggunaan OAINS—juga perlu ditinjau.
Penemuan H. pylori mengubah tukak dari kondisi yang kerap hanya diredakan menjadi penyakit yang penyebabnya dapat dicari dan, pada banyak kasus, ditangani. Bagi orang yang mengalami nyeri perut menetap atau tukak berulang, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan pemeriksaan dan terapi yang sesuai.