Duduk Lama dan Menunduk, Waspadai Risiko Saraf Kejepit
Duduk lama dan menunduk saat memakai ponsel atau laptop dapat membebani leher dan tulang belakang. Dokter menyarankan penyesuaian posisi layar serta mengurangi kebiasaan menunduk.
Kebiasaan duduk berjam-jam sambil menunduk menatap ponsel atau laptop dapat memberi tekanan berlebih pada leher dan tulang belakang. Dokter mengingatkan, kebiasaan yang dilakukan berulang dalam jangka panjang berisiko memicu saraf kejepit, kondisi yang juga dapat dialami orang berusia muda.
Menunduk saat menggulir media sosial, bermain gim, atau bekerja kerap berlangsung tanpa disadari. Posisi yang sama dipertahankan lama, baik ketika duduk, berdiri, maupun berbaring. Padahal, otot leher bisa menegang dan bantalan di antara ruas tulang belakang menerima tekanan lebih besar.
Spesialis bedah saraf dari RS Abdi Waluyo, dr M. Aulia Rahman, mengatakan gerakan atau kebiasaan repetitif dalam waktu lama dapat memunculkan masalah di leher. Saraf kejepit, menurut dia, bukan semata-mata akibat aktivitas yang dilakukan sehari sebelumnya, melainkan dapat berkaitan dengan kebiasaan yang terus berulang.
“Jadi saraf kejepit itu bukan masalah satu dua hari lalu saya ngapain, tapi mengenai kebiasaan yang kita lakukan dalam jangka panjang,” kata Aulia.
Postur menunduk menambah beban pada leher
Saat kepala terus condong ke depan untuk melihat layar, bagian belakang leher harus bekerja menahan posisi tersebut. Jika berlangsung lama, otot dapat menjadi tegang. Tekanan pada diskus atau bantalan antar-ruas tulang belakang pun meningkat.
Aulia menjelaskan, ruas leher tertentu dapat terdampak oleh kebiasaan menunduk ketika menggunakan ponsel. Ia juga menyoroti posisi monitor komputer atau laptop. Layar yang terlalu rendah membuat pengguna cenderung menundukkan kepala agar dapat melihat dengan jelas.
Karena itu, posisi layar perlu disesuaikan agar sejajar dengan pandangan. Pengguna laptop dapat memakai penyangga supaya layar berada lebih tinggi. Penyesuaian sederhana ini ditujukan untuk mengurangi kebiasaan menunduk berkepanjangan, terutama bagi orang yang pekerjaannya banyak dilakukan di depan layar.
Risiko tidak hanya berkaitan dengan leher. Kebiasaan duduk terlalu lama tanpa bergerak juga dapat menambah tekanan pada tulang belakang. Posisi punggung membungkuk membuat distribusi tekanan tidak merata, sementara kurangnya aktivitas dapat melemahkan otot-otot yang menopang tulang belakang.
Risiko saraf kejepit juga perlu diperhatikan pada remaja
Keluhan saraf kejepit selama ini kerap diasosiasikan dengan orang dewasa. Namun, kebiasaan menetap di depan layar dan kurang bergerak juga menjadi perhatian pada remaja. Belajar daring, bermain gim, atau mengakses media sosial dapat membuat mereka bertahan dalam posisi yang sama selama berjam-jam.
Dokter spesialis ortopedi tulang belakang Eka Hospital BSD, Asrafi Rizki Gatam, menyebut kebiasaan kurang aktif dapat membuat otot di sekitar tulang belakang tidak terlatih dan mengecil. Padahal, otot tersebut berperan menopang struktur tubuh. Ketika dukungan otot berkurang, risiko gangguan pada tulang belakang dapat meningkat.
Saraf kejepit terjadi ketika saraf mendapat tekanan dari jaringan di sekitarnya. Tekanan itu dapat berasal dari otot, ligamen, bantalan tulang belakang, atau tulang. Keluhan yang bisa muncul antara lain nyeri, kesemutan, hingga mati rasa.
Selain terlalu lama duduk dan postur membungkuk, aktivitas fisik dengan gerakan ekstrem atau teknik yang keliru juga dapat memicu cedera dan tekanan pada saraf. Contohnya, mengangkat beban atau berlari tanpa pemanasan. Karena itu, kebiasaan bergerak perlu diimbangi dengan perhatian pada cara tubuh melakukan aktivitas.
Sesuaikan layar dan kurangi kebiasaan menunduk
Langkah yang disarankan Aulia adalah mengurangi aktivitas menunduk dan mengatur posisi perangkat. Layar monitor sebaiknya cukup tinggi agar pandangan tidak terus mengarah ke bawah. Untuk pengguna laptop, penyangga dapat membantu menempatkan layar pada posisi yang lebih nyaman dilihat.
Kebiasaan duduk lama di depan layar juga sebaiknya tidak membuat tubuh diam dalam posisi yang sama tanpa jeda untuk bergerak atau meregangkan badan. Perubahan kecil dalam rutinitas dapat membantu mengurangi beban yang terus-menerus diterima leher dan punggung.
Nyeri, kesemutan, atau mati rasa tidak selalu berarti seseorang mengalami saraf kejepit, tetapi gejala tersebut patut diperhatikan. Memperbaiki postur dan meninjau kebiasaan harian menjadi langkah awal yang relevan, terutama bagi mereka yang banyak bekerja atau belajar menggunakan gawai. Semakin dini kebiasaan berisiko dikurangi, semakin baik kesempatan untuk menjaga kesehatan leher dan tulang belakang.