IMF dan Bank Dunia Soroti Risiko AI bagi Pekerja
IMF dan Bank Dunia memperingatkan AI dapat mengubah pasar kerja global dan membuat lulusan muda lebih sulit memulai karier. Pemerintah didorong memperkuat dukungan kerja dan mendorong penciptaan lapangan kerja.
IMF dan Bank Dunia memperingatkan kecerdasan buatan (AI) dapat mengubah pasar tenaga kerja dunia, dengan lulusan muda menjadi salah satu kelompok yang paling rentan. Di tengah perubahan itu, para pemimpin lembaga keuangan dan pembuat kebijakan menilai dukungan bagi pencari kerja serta penciptaan lapangan kerja baru perlu disiapkan sejak sekarang.
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menggambarkan dampak AI sebagai “tsunami yang bergerak lambat”. Perubahan itu, menurut dia, berpotensi menghantam pasar kerja global dan membuat perjalanan awal karier semakin sulit bagi generasi muda.
AI berisiko mengubah hingga 40 persen pekerjaan
Georgieva menyoroti tantangan yang dihadapi lulusan baru saat memasuki dunia kerja. Selama ini, banyak pekerja memulai karier dari pekerjaan rutin dan berulang sebelum beranjak ke posisi yang lebih tinggi. Namun, perkembangan AI dapat mengubah kebutuhan terhadap jenis pekerjaan tersebut.
“Yang perlu dikhawatirkan, pertama dan terutama, adalah kaum muda yang mulai memasuki pasar tenaga kerja,” kata Georgieva, seperti dikutip CNBC dalam laporan yang dirujuk detikFinance, Selasa (13/10/2026). Ia menilai mencari pekerjaan pertama untuk membangun karier panjang bisa menjadi lebih sulit dari biasanya.
IMF memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di seluruh dunia pada akhirnya akan ditambah, diturunkan, atau dihilangkan akibat perkembangan AI. Besarnya paparan risiko tidak merata. Di negara-negara maju, sekitar 60 persen pekerjaan diperkirakan terpapar, sementara di negara berpenghasilan rendah angkanya sekitar 23 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pengaruh AI terhadap pekerjaan dapat muncul dalam bentuk yang beragam. Sebagian pekerjaan mungkin berubah atau memperoleh tambahan dukungan teknologi, sedangkan pekerjaan lain bisa mengalami penurunan kebutuhan hingga hilang. Angka IMF itu menggambarkan besarnya potensi perubahan, bukan berarti seluruh pekerjaan yang terpapar akan lenyap.
Kaum muda menghadapi tantangan masuk dunia kerja
Kerentanan lulusan muda menjadi perhatian karena mereka berada di tahap awal membangun pengalaman profesional. Jika pekerjaan rutin yang biasanya menjadi pintu masuk karier ikut berubah, kesempatan untuk memperoleh pekerjaan pertama dapat semakin terbatas. Georgieva juga menyinggung kekhawatiran anak muda terhadap prospek pekerjaan yang tidak memberi jalur karier jangka panjang.
Peringatan tersebut muncul ketika sejumlah negara juga menghadapi perubahan jumlah angkatan kerja. Presiden Bank Dunia Ajay Banga menyebut sekitar 1,2 miliar anak muda akan berusia 18 tahun dalam 15 tahun ke depan. Mereka akan memasuki usia kerja dan membutuhkan peluang untuk memperoleh pekerjaan.
Menurut Banga, sektor swasta akan memegang peran besar dalam menyediakan kesempatan tersebut. Sektor ini telah menghasilkan sekitar 75 hingga 85 persen lapangan kerja, sehingga perusahaan swasta diperkirakan perlu menyerap sebagian besar tenaga kerja muda yang akan memasuki pasar.
“Modal swasta itulah yang menciptakan lapangan kerja,” kata Ajay Banga.
Banga menilai pemerintah dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung investasi. Langkah yang disebutnya mencakup pembangunan infrastruktur, penetapan kebijakan, dan pengurangan risiko bagi modal swasta. Upaya itu ditujukan untuk mengatasi hal-hal yang dapat menghambat investor menanamkan dana dalam skala besar.
Dukungan kerja bagi lulusan perlu menjadi kebijakan struktural
Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam, yang juga menjabat Ketua Dewan Pekerjaan Bank Dunia, menyerukan agar pemerintah mengambil langkah untuk membantu kaum muda mendapatkan pekerjaan. Ia mendorong agar kebijakan yang pernah digunakan saat pandemi COVID-19 dan krisis keuangan global tidak hanya diperlakukan sebagai respons darurat.
Menurut Tharman, sebagian kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari kebijakan struktural yang berlangsung lebih lama. Kerja sama dengan sektor swasta dan pemberian insentif kepada perusahaan untuk merekrut lulusan baru menjadi langkah yang dinilai penting.
“Sekarang kebijakan itu harus dipikirkan bukan sebagai langkah krisis, tetapi sebagai bagian dari kebijakan struktural, serangkaian kebijakan struktural,” ujarnya.
Pembahasan mengenai AI dan pekerjaan, menurut laporan tersebut, mulai bergeser. Perdebatan tidak lagi hanya berkutat pada apakah teknologi itu akan mengganggu lapangan kerja, tetapi juga pada cara mengurangi dampaknya. Pada saat yang sama, penuaan penduduk yang berlangsung cepat, terutama di Asia, turut menjadi perhatian karena dapat mengancam jumlah angkatan kerja.
Peringatan IMF dan Bank Dunia menempatkan penciptaan pekerjaan dan dukungan bagi lulusan muda sebagai agenda yang perlu berjalan beriringan dengan perubahan teknologi. Pemerintah, perusahaan, dan pemangku kebijakan kini dihadapkan pada kebutuhan untuk menyiapkan langkah jangka panjang agar generasi yang memasuki usia kerja tetap memiliki akses ke peluang karier.