Ebola Kongo Tewaskan 4.018 Orang, Kasus Capai 8.300

Wabah Ebola Bundibugyo di Kongo menewaskan 4.018 orang dari 8.300 kasus terkonfirmasi. Penularan melambat di sebagian Ituri, tetapi masih menyebar di sejumlah wilayah.

ebola-kongo-tewaskan-4018-orang-kasus-capai-8300

Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (Kongo) telah menewaskan 4.018 orang dari 8.300 kasus terkonfirmasi, menurut data Kementerian Kesehatan setempat yang dirilis Kamis, 1 Oktober 2026. Pemerintah masih berupaya mengendalikan penyebaran virus, yang meluas di sejumlah wilayah negara itu.

Lebih dari 2.000 pasien dilaporkan telah pulih. Namun, angka kematian yang telah melampaui 4.000 jiwa dan bertambahnya wilayah terdampak menunjukkan bahwa wabah belum terkendali, meski penularan sempat memperlihatkan tanda-tanda melambat di beberapa bagian Provinsi Ituri.

Kasus Ebola Kongo menyebar ke tujuh provinsi

Wabah ini diumumkan pada 15 Mei dan disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo, spesies yang langka. Dalam perkembangannya, wabah menjangkau tujuh provinsi. Ubangi Selatan, di barat laut Kongo, menjadi wilayah ketujuh yang melaporkan wabah pada bulan lalu.

Laporan di Ubangi Selatan muncul setelah seorang pria yang melakukan perjalanan dari Kongo Timur meninggal akibat virus tersebut. Peristiwa itu memperlihatkan luasnya jangkauan wabah, yang tidak hanya bertahan di wilayah timur tempat penyebaran awalnya berlangsung.

Pemerintah Kongo dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya menyampaikan adanya tanda perlambatan penularan di sejumlah bagian Ituri. Provinsi tersebut merupakan tempat wabah pertama kali bermula. Meski menjadi perkembangan yang memberi harapan, perlambatan itu belum terjadi merata.

Di Kongo Timur, virus masih menyebar dengan cepat. Kivu Utara menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena menyumbang 40 persen dari kasus baru terkonfirmasi sejak akhir Agustus.

Penularan Ebola belum mereda di Kongo Timur

Perbedaan kondisi antardaerah membuat pengendalian wabah menjadi rumit. Di satu wilayah, penularan menunjukkan tanda melambat; di wilayah lain, kasus baru terus bermunculan. Situasi ini digambarkan Stephanie Hoffman, koordinator Médecins Sans Frontières (MSF) di Butembo, seperti upaya memadamkan kebakaran hutan.

“Ini seperti memadamkan kebakaran hutan,” kata Stephanie Hoffman.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah wabah berkembang secara bersamaan, dengan intensitas berbeda dan di lokasi yang berlainan. Pernyataan itu menggambarkan tantangan yang dihadapi para petugas ketika penyebaran tidak terkonsentrasi di satu tempat dan bergerak dengan tingkat kecepatan yang berbeda-beda.

Dampak wabah juga dirasakan oleh tenaga kesehatan. Sedikitnya 50 petugas kesehatan dilaporkan meninggal setelah tertular Ebola. Angka tersebut menambah berat upaya penanganan di tengah penyebaran virus yang masih berlangsung.

Bundibugyo dan catatan wabah Ebola di Kongo

Wabah saat ini telah melampaui epidemi Ebola yang berlangsung pada 2018–2020, sehingga menjadi yang terbesar dan paling mematikan dalam sejarah Kongo. Spesies Bundibugyo yang menjadi penyebab wabah ini tergolong langka dan, menurut laporan yang dikutip, belum memiliki pengobatan atau vaksin yang diketahui.

Dalam catatan global, wabah ini disebut sebagai wabah Ebola paling mematikan kedua. Posisi pertama ditempati epidemi Afrika Barat pada 2014–2016, yang menginfeksi lebih dari 28.600 orang dan menewaskan lebih dari 11.000 orang di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Perbandingan itu menunjukkan besarnya dampak wabah di Kongo, tetapi angka terbaru juga menegaskan bahwa kondisi di lapangan masih berubah. Ribuan pasien telah meninggal, sementara lebih dari 2.000 lainnya pulih; pada saat yang sama, kasus baru tetap muncul di wilayah timur dan laporan wabah bertambah di barat laut.

Pemerintah Kongo dan PBB masih menghadapi pekerjaan besar untuk membatasi penularan di berbagai provinsi. Tanda perlambatan di Ituri menjadi perkembangan penting, tetapi penyebaran di Kivu Utara dan munculnya laporan dari Ubangi Selatan menunjukkan bahwa pengendalian wabah belum selesai.

Duniafakta