Harga Ayam Goreng Mengungkap Jurang Daya Beli Kota

Harga ayam goreng di Kupang setara upah kerja 108 menit, sementara di Banjarmasin hanya 19 menit. Perbandingan harga dan UMK menggambarkan ketimpangan daya beli antarkota.

harga-ayam-goreng-mengungkap-jurang-daya-beli-kota

Harga seporsi ayam goreng di Kupang, Nusa Tenggara Timur, setara dengan upah bekerja selama 108 menit. Di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, warga hanya perlu bekerja 19 menit untuk membeli makanan yang sama. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana harga pangan dan upah membentuk daya beli warga di berbagai kota.

Perbandingan tersebut dihimpun dari data harga ayam goreng di 34 kota besar pada 2023–2025 dan upah minimum kabupaten/kota (UMK) pada periode yang sama. Ayam goreng dipilih karena merupakan makanan populer. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2025 mencatat konsumsi daging ayam di 514 kabupaten/kota mencapai sedikitnya lima gram per kapita per minggu.

Untuk menyetarakan harga dengan waktu kerja, UMK bulanan dikonversi menggunakan asumsi seseorang bekerja 40 jam per minggu selama empat pekan. Hasilnya, satu porsi ayam goreng dapat menjadi cermin sederhana tentang seberapa jauh penghasilan warga menjangkau kebutuhan sehari-hari.

Dari Kupang hingga Banjarmasin, waktu kerja berbeda jauh

Pada 2025, harga ayam goreng di Kupang tercatat Rp 27.000 per porsi, sementara UMK setempat Rp 2,39 juta per bulan. Nilainya setara upah 108 menit bekerja. Warga Kupang, Renaldus Bonlae (27), mengatakan harga ayam goreng tanpa nasi dan sayur di daerahnya berkisar Rp 25.000–Rp 35.000 per porsi.

Dengan penghasilan sekitar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan yang tidak menentu, Renaldus jarang membeli ayam goreng. Ia mengaku bisa tidak menyantapnya selama dua atau tiga bulan, kecuali ketika diajak makan oleh senior. Sebagai pilihan yang lebih terjangkau, ia membeli ayam geprek seharga Rp 15.000. Dagingnya, menurut dia, tidak perlu besar; lapisan tepung yang mengenyangkan sudah cukup.

Di ujung lain perbandingan, ayam goreng di Banjarmasin pada 2025 berharga Rp 7.000 per porsi. Dengan UMK Rp 3,59 juta per bulan, harga itu setara upah kerja 19 menit—yang terendah di antara kota-kota dalam analisis. Warga Banjarmasin, Rida (32), menyebut ayam goreng tepung di warung makan atau warung tenda dijual sekitar Rp 6.000–Rp 8.000 per porsi.

Rida membeli ayam goreng empat hingga delapan kali sebulan dan biasanya membawa pulang dua atau tiga porsi ketika tidak memasak lauk. Menurut dia, selisih harga antarwarung sekitar Rp 2.000–Rp 3.000 masih dapat dijangkau. Pilihan warung juga beragam, dari sambal yang pedas hingga ayam berukuran besar.

UMK dan ongkos distribusi ikut menentukan keterjangkauan

Jakarta menunjukkan gambaran berbeda dari Kupang. Harga ayam goreng di Ibu Kota pada 2025 sebesar Rp 22.000 per porsi, dengan UMK Rp 5,39 juta per bulan. Pembeli perlu bekerja sekitar 39 menit untuk memperoleh upah senilai harga satu porsi. Meski harga nominalnya tidak jauh di bawah Kupang, ayam goreng di Jakarta hampir tiga kali lebih terjangkau jika dibandingkan dengan kemampuan upah setempat.

Jayapura juga mencatat harga yang lebih rendah daripada Jakarta, yakni hampir Rp 16.000 per porsi. Dengan UMK Rp 4,28 juta, nilai ayam goreng di kota itu setara upah 36 menit bekerja. Secara umum, harga di sebagian besar dari 34 kota berada pada kisaran setara 30–60 menit kerja. Namun, Kupang dan Kendari menonjol karena masing-masing membutuhkan 108 menit dan 106 menit.

Perbedaan harga tidak hanya berkaitan dengan besaran UMK. Rantai pasok dan ongkos pengangkutan daging ayam turut memengaruhi harga bahan baku, terutama di wilayah yang jauh dari sentra peternakan ayam pedaging. Di Nusa Tenggara Timur, margin perdagangan dan pengangkutan daging ayam ras pada 2021 mencapai 34,39 persen, lebih tinggi daripada rata-rata nasional sebesar 25,49 persen.

Sebaliknya, margin perdagangan dan pengangkutan di Kalimantan Selatan tercatat 15,49 persen. Angka yang lebih rendah ini sejalan dengan harga ayam goreng Banjarmasin yang relatif murah. Dalam perbandingan indeks, nilai ayam goreng di Kupang 5,6 kali lebih tinggi daripada di Banjarmasin, memperlihatkan besarnya jurang keterjangkauan di antara kedua kota.

Harga makanan olahan juga memuat biaya usaha

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Iqbal Shoffan Shofwan menilai perbedaan harga antardaerah dipengaruhi biaya bahan baku dan logistik. Wilayah di luar Pulau Jawa yang bukan sentra peternakan ayam pedaging menanggung kebutuhan distribusi antarpulau. Harga jual makanan olahan juga memperhitungkan promosi, sewa tempat, kemasan, serta nilai tambah layanan.

“Harga olahan kuliner tetap mengikuti mekanisme pasar dan model bisnis masing-masing pelaku usaha,” kata Iqbal, Jumat (2/10/2026). Dengan demikian, harga yang dibayar konsumen tidak hanya mencerminkan harga daging ayam, tetapi juga ongkos yang timbul sepanjang proses pengolahan dan penjualan.

Profesor Agribisnis IPB University Bayu Krisnamurthi menilai perbandingan harga ayam goreng dengan UMK dapat menggambarkan perbedaan daya beli antarkota. Ia menyebut pendekatan tersebut serupa dengan The Big Mac Economy, yang menggunakan harga produk populer untuk membaca perbedaan kondisi ekonomi.

Indeks ini bukan gambaran lengkap pengeluaran rumah tangga, tetapi menunjukkan bahwa harga yang sama dapat terasa sangat berbeda ketika berhadapan dengan tingkat upah dan biaya distribusi yang berlainan. Perbandingan semacam ini dapat menjadi titik awal untuk melihat bagaimana keterjangkauan pangan berubah dari satu kota ke kota lain.

Duniafakta