Harga Emas Tertekan, Proyeksi Turun ke US$3.600

Harga emas dunia turun 3,6 persen dan ditutup di bawah US$4.000 per troy ons. Capital Economics memperkirakan harga dapat merosot ke US$3.600 pada akhir 2027.

harga-emas-tertekan-proyeksi-turun-ke-us-3600

Harga emas dunia merosot 3,6 persen pada Jumat, 30 Oktober 2026, dan ditutup di US$3.875,03 per troy ons. Penurunan itu membawa logam mulia ke bawah ambang US$4.000, sementara proyeksi Capital Economics memperkirakan harganya masih dapat melemah hingga US$3.600 pada akhir 2027.

CNBC Indonesia, dengan mengacu pada data Refinitiv, mencatat harga emas sudah turun 4,7 persen dalam dua hari perdagangan. Dalam sepekan, nilainya susut 3,02 persen. Ini menjadi pekan ketiga berturut-turut harga emas berakhir lebih rendah. Secara bulanan, penurunannya mencapai 6,76 persen.

Tekanan tersebut datang saat pasar menimbang kemungkinan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi lebih lama. Bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, situasi itu dapat mengurangi daya tarik dibandingkan aset berbunga.

Inflasi energi mengubah perkiraan suku bunga

Kenaikan harga energi memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi belum terkendali. Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed, dan Bank Sentral Eropa (ECB) sama-sama menyoroti risiko kenaikan inflasi akibat biaya energi. Keduanya menahan suku bunga pada pekan tersebut, tetapi sinyal kebijakannya masih mengarah pada sikap ketat.

Data yang dirilis Kamis menunjukkan inflasi AS naik pada September. Konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lain, sehingga sebagian ekonom memperkirakan The Fed bisa kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, menilai kekhawatiran inflasi mendorong sejumlah bank sentral mempertahankan pendekatan moneter yang ketat. Menurutnya, sinyal bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama ikut membebani logam mulia.

Capital Economics memperkirakan tekanan suku bunga belum berakhir. Tim ekonominya memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali lagi, sejalan dengan perkiraan pasar berjangka. Risiko, menurut lembaga tersebut, condong pada kemungkinan kenaikan yang lebih besar.

Penjualan saham ikut menekan logam mulia

Emas juga melemah bersamaan dengan saham teknologi. Analis Commerzbank menilai penurunan saham dapat memicu penjualan paksa oleh investor yang perlu memenuhi permintaan tambahan jaminan dari broker, atau margin call. Tekanan jual seperti itu berpotensi merambat ke aset lain yang dimiliki investor.

Pergerakan emas kali ini tidak sepenuhnya mengikuti pola yang biasanya terlihat. Harga emas secara historis cenderung bergerak berlawanan arah dengan imbal hasil Treasury Inflation-Protected Securities (TIPS) AS bertenor 10 tahun. Hubungan itu bertahan selama delapan bulan pertama tahun ini, tetapi terputus dalam dua bulan terakhir. Pekan ini, emas dan saham teknologi sama-sama turun meski imbal hasil obligasi melemah.

Capital Economics menyebut pelemahan dolar AS dalam waktu singkat pada awal September serta pembelian emas oleh bank sentral, terutama China, sempat menopang harga. Namun, lembaga itu menilai dukungan tersebut belum cukup untuk mengatasi tekanan dari prospek suku bunga yang lebih ketat. Potensi pecahnya gelembung saham kecerdasan buatan juga dipandang sebagai risiko pasar pada tahun depan.

Permintaan Asia belum menjadi penopang

Dari sisi pembelian fisik, pasar utama Asia belum memberi tanda pemulihan yang berarti. Pembeli di India menunda transaksi karena memperkirakan harga masih bisa turun. Di China, negara yang disebut sebagai konsumen emas terbesar dunia, permintaan juga masih lesu.

Commerzbank menilai koreksi harga logam mulia sudah terlalu dalam dan masih memperkirakan adanya pemulihan. Pandangan itu berbeda dari perkiraan Capital Economics, yang menempatkan harga emas di US$3.600 per troy ons pada penghujung 2027. Angka tersebut jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan harga sekitar US$4.600 pada kuartal IV-2027.

Dengan harga yang telah menghapus kenaikan selama setahun terakhir dan berada sekitar 25 persen di bawah puncaknya pada akhir Februari, arah suku bunga AS menjadi salah satu penentu penting bagi pergerakan berikutnya. Perhatian pasar kini tertuju pada keputusan The Fed selanjutnya dan perkembangan inflasi energi.

Duniafakta