IHSG Tertekan, BBCA dan 624 Saham Ditutup Merah

IHSG turun 3,49 persen ke 5.098,06 setelah tekanan jual meluas. BBCA anjlok 6,35 persen, sementara investor menanti data inflasi AS dan keputusan bank sentral.

ihsg-tertekan-bbca-dan-624-saham-ditutup-merah

IHSG menutup perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, dengan koreksi 3,49 persen ke level 5.098,06. Penurunan itu meluas ke sebagian besar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), sementara saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merosot 6,35 persen dan ikut membebani indeks.

Data RTI yang dikutip BeritaSatu mencatat 624 saham melemah, 98 saham menguat, dan 70 saham tidak berubah. Angka tersebut memperlihatkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada segelintir emiten besar. Indeks kehilangan 184,26 poin dari penutupan sebelumnya.

Perdagangan sempat dibuka di 5.305,20 dan IHSG naik hingga 5.320,89. Namun, kenaikan awal tak bertahan. CNBC Indonesia melaporkan tekanan jual muncul sejak pagi, lalu membawa indeks turun tajam sebelum pukul 10.00 WIB. Menjelang penutupan, indeks sempat bergerak di kisaran 5.125 hingga 5.175 sebelum merosot lagi ke posisi akhir.

Tekanan merata, saham perbankan ikut terseret

BBCA ditutup di Rp 4.940 per saham. Menurut BeritaSatu, sebanyak 312 juta saham BCA berpindah tangan dalam 66.401 transaksi, dengan nilai perdagangan Rp 1,57 triliun. Nilai itu menjadi yang terbesar di antara saham yang diperdagangkan pada hari tersebut.

Data Stockbit Sekuritas yang dikutip BeritaSatu menunjukkan BBCA mencatat penjualan bersih Rp 408,5 miliar. Pada jeda siang, investor asing telah membukukan penjualan bersih sekitar Rp 203,52 miliar di saham itu. Pergerakannya berbalik dari sehari sebelumnya, ketika BBCA naik 7,65 persen dan mencatat pembelian bersih asing Rp 1,17 triliun.

Saham-saham berkapitalisasi besar lain juga melemah. Astra International (ASII) turun 6,20 persen, Telkom Indonesia (TLKM) terkoreksi 4,35 persen, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) turun 3,77 persen, dan Bank Mandiri (BMRI) melemah 3,12 persen, menurut StockWatch.id. CNBC Indonesia juga mencatat saham-saham tersebut sebagai pemberat indeks.

Sektor utilities mencatat penurunan 5,99 persen, disusul jasa pendidikan sebesar 4,60 persen dan basic materials 4,02 persen. Di antara saham yang bergerak berlawanan, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) naik 5,38 persen dan Chandra Asri Pacific (TPIA) menguat 1,12 persen, berdasarkan data StockWatch.id.

Investor mengurangi risiko saat agenda global padat

Pengamat pasar modal Elandry Pratama, seperti dikutip BeritaSatu dari Antara, menilai pelemahan dipengaruhi gabungan sentimen global dan domestik. Ketidakpastian mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sementara arus dana keluar dan kekhawatiran terhadap prospek pasar modal Indonesia menambah tekanan jual.

Elandry juga menilai kondisi likuiditas dan aksi ambil untung di saham-saham besar ikut memengaruhi pergerakan. Investor global, menurut dia, cenderung lebih berhati-hati terhadap pasar negara berkembang. Di dalam negeri, sebagian pelaku pasar mungkin memilih menunggu perkembangan sentimen dan kestabilan indeks sebelum bertransaksi.

Perhatian pasar tertuju pada keputusan Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75 hingga 4 persen. CNBC Indonesia melaporkan keputusan tersebut tidak bulat: Lisa Cook dan Beth Hammack mendukung kenaikan 25 basis poin. Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut inflasi masih tinggi, tetapi tidak memberi petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik menjadi 5,042 persen setelah keputusan diumumkan. Pelaku pasar juga menantikan data inflasi PCE Amerika Serikat untuk September, yang dijadwalkan dirilis pada 29 Oktober pukul 19.30 WIB. Data itu menjadi salah satu acuan The Fed dalam merumuskan kebijakan moneter. Pada hari yang sama, Bank Sentral Eropa dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pukul 20.15 WIB.

Data transaksi berbeda antar-pelaporan

Angka aktivitas perdagangan yang diberitakan media tidak sepenuhnya sama. CNBC Indonesia menyebut volume 217,69 juta lot dengan nilai Rp 10,13 triliun. Sementara StockWatch.id mencatat 23,278 miliar saham diperdagangkan dengan nilai Rp 11,296 triliun. Keduanya sama-sama melaporkan penutupan IHSG di sekitar 5.098.

Untuk jangka pendek hingga menengah, Elandry memperkirakan indeks masih rentan bergerak fluktuatif dan sensitif terhadap arus dana asing, sentimen global, serta kebijakan regulator. Ia menyarankan investor disiplin mengelola risiko dan tidak terburu-buru menambah posisi pada saham yang sedang turun. Perkembangan data inflasi AS dan respons pasar terhadap keputusan bank sentral menjadi agenda berikutnya yang akan dicermati pelaku pasar.

Duniafakta