Trump Sebut Perang Iran Bisa Berakhir, Serangan Baru Mengintai

Trump mengatakan perang dengan Iran bisa segera berakhir, sementara laporan media menyebut AS dan Israel menyiapkan rencana serangan baru setelah pemilu sela.

trump-sebut-perang-iran-bisa-berakhir-serangan-baru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan perang dengan Iran bisa segera diakhiri, tetapi laporan media menyebut militer AS dan Israel telah menyiapkan rencana serangan baru setelah pemilu sela Amerika. Pernyataan yang disampaikan dalam rapat umum di Carolina Selatan, Rabu waktu setempat, itu belum menjawab apakah Washington benar-benar akan menghentikan operasi militernya.

Trump menyatakan AS dapat pergi dari konflik sekarang, tetapi ingin memastikan hasilnya bertahan lama. “Ini akan segera berakhir. Kita bisa pergi sekarang, tetapi kita ingin memastikan ini bertahan untuk waktu yang lama,” katanya, seperti dikutip Anadolu Agency, Kamis (22/10/2026).

Trump klaim AS telah mengalahkan Iran

Di hadapan pendukungnya, Trump menggambarkan posisi AS sebagai pihak yang telah menang. Ia mengklaim Iran telah dikalahkan secara menyeluruh, baik dari sisi militer maupun finansial. Namun, pernyataan tersebut merupakan klaim Trump dan tidak disertai rincian mengenai ukuran atau dasar penilaian kemenangan itu.

Presiden AS itu juga kembali menegaskan bahwa Teheran tidak akan memiliki senjata nuklir. “Teheran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” ujarnya. Isu nuklir menjadi salah satu persoalan utama dalam hubungan kedua negara, meski kebuntuan pembicaraan juga mencakup masalah lain, termasuk navigasi di Selat Hormuz.

Trump turut mengatakan AS telah memblokade Selat Hormuz secara ketat. Ia bahkan menyebut jalur perairan penting tersebut sebagai “Selat Trump”, sambil membandingkannya dengan perubahan nama Teluk Meksiko yang pernah ia dorong. Pernyataan itu disampaikan saat sengketa mengenai akses pelayaran di kawasan tersebut masih belum terselesaikan.

Rencana serangan baru AS dan Israel belum pasti

Optimisme Trump muncul bersamaan dengan laporan The New York Times bahwa militer AS dan Israel menyusun rencana untuk memperbarui serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS. Laporan itu mengutip sejumlah pejabat dan sumber internal pemerintah Amerika. Belum jelas apakah Trump akan menyetujui rencana tersebut.

Menurut laporan itu, Trump berulang kali memveto rencana untuk kembali ke pertempuran besar pada tahun ini. Sikap tersebut membuat keputusan akhir mengenai kemungkinan serangan baru tetap menjadi tanda tanya. Gedung Putih tidak mengonfirmasi keberadaan rencana militer itu.

“Pemerintah tidak mengomentari rencana militer yang mungkin atau mungkin tidak ada,” kata seorang pejabat Gedung Putih.

Dengan demikian, pernyataan Trump soal kemungkinan mengakhiri perang belum otomatis berarti operasi militer akan segera dihentikan. Di satu sisi, ia berbicara tentang penyelesaian yang bertahan lama; di sisi lain, laporan mengenai persiapan serangan baru memperlihatkan bahwa opsi militer masih menjadi bagian dari pembahasan.

Kesepakatan AS-Iran masih tersendat

AS dan Israel secara resmi melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari. Teheran membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak di kawasan tersebut, serta secara efektif menutup Selat Hormuz, rute penting bagi pasokan energi global. Ketegangan di jalur itu kemudian menjadi salah satu ganjalan dalam upaya meredakan konflik.

Nota kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pada Juni melalui mediasi Pakistan dan Qatar kini mandek di tengah perselisihan yang belum diselesaikan. Salah satu persoalan utamanya adalah navigasi pelayaran di Selat Hormuz. Kesepakatan itu sempat dipandang sebagai jalur menuju penghentian konflik, tetapi belum menghasilkan penyelesaian yang tuntas.

Laporan BBC mengenai perjanjian AS-Iran menyebut dokumen tersebut memuat komitmen terkait gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, masih ada pertanyaan mengenai pelaksanaan sejumlah poin dan bagaimana pihak-pihak terkait akan menjalankannya. Perbedaan mengenai cakupan kesepakatan, termasuk penghentian operasi militer, turut membuat proses menuju perdamaian tetap rumit.

Untuk saat ini, pernyataan Trump dan laporan tentang rencana serangan baru menunjukkan dua kemungkinan yang berjalan beriringan: konflik dapat memasuki tahap penyelesaian, tetapi eskalasi militer belum sepenuhnya tersingkir. Kepastian akan sangat bergantung pada keputusan Washington, perkembangan pembicaraan, serta penyelesaian sengketa pelayaran di Selat Hormuz.

Duniafakta