AI Claude Bantu Temukan Kandidat Planet di Data NASA
Pavel Rabtsevich memakai AI Claude untuk menganalisis data 126.000 bintang dan menemukan sinyal kandidat planet. Temuan itu masih menunggu verifikasi melalui pengamatan lanjutan.
Dengan bantuan AI Claude, Pavel Rabtsevich menemukan sinyal yang mungkin menandai keberadaan planet di luar tata surya. Dalam waktu sekitar dua minggu, manajer produk berusia 28 tahun yang tinggal di Spanyol itu menganalisis data lebih dari 126.000 bintang dari TESS, teleskop ruang angkasa NASA. Ia tak memiliki teleskop sendiri maupun pelatihan panjang di bidang astronomi.
Temuan tersebut belum dapat disebut sebagai penemuan planet yang terkonfirmasi. Sinyal yang ditemukan Rabtsevich masih berstatus kandidat dan perlu diuji melalui pengamatan independen. Namun, prosesnya menunjukkan bagaimana perangkat kecerdasan buatan dapat membantu seseorang menelusuri data ilmiah dalam skala besar.
Sinyal berulang pada bintang TIC 4206066
Dalam peninjauan data TESS, Rabtsevich menemukan perubahan kecerahan pada bintang bernama TIC 4206066, yang berjarak sekitar 116 tahun cahaya dari Bumi. Cahaya bintang itu meredup sekitar 0,05 persen selama hampir dua jam. Peristiwa tersebut muncul dengan interval 3,18 hari.
TESS mencari planet ekstrasolar, atau eksoplanet, antara lain dengan metode transit. Metode ini mengamati penurunan kecil pada kecerahan bintang ketika sebuah objek melintas di depannya dari sudut pandang teleskop. Pola yang berulang dapat menjadi petunjuk adanya planet, meski penyebab lain tetap perlu diperiksa.
Rabtsevich kemudian memeriksa catatan pengamatan terdahulu. Ia menemukan sinyal serupa dalam data dari 2018 dan 2020. Kemunculan berulang itu memperkuat alasan untuk meneliti bintang tersebut lebih lanjut, tetapi belum cukup untuk memastikan bahwa objek yang melintas adalah planet.
Claude membantu mengolah data dan menguji dugaan
Untuk memeriksa data sebanyak itu, Rabtsevich menggunakan Claude Code dan sejumlah alat AI lain untuk menulis program. Alat tersebut membantunya menganalisis sinyal, menghitung lintasan, serta menelusuri kemungkinan penyebab yang dapat menghasilkan temuan keliru.
Dalam sekitar dua minggu, ia melakukan 74 analisis dan membuat lebih dari 1.000 skrip. Salah satu pengujian penting dilakukan dengan menggunakan data dari dua tahun untuk memperkirakan kapan sinyal akan muncul pada bagian data lain yang disembunyikan. Ketika tiga metode analisis diterapkan bersama, perkiraan itu sesuai dengan data pengamatan.
Ia juga menelusuri ratusan ribu peringatan otomatis dan berbagai sumber ilmiah untuk mencari hasil serupa. Proses tersebut tidak menjadikan AI sebagai pengganti pengamatan atau penilaian ilmiah. Perangkat itu digunakan untuk membantu mengolah informasi dan menguji hipotesis, sementara kesimpulan tetap bergantung pada mutu data dan pemeriksaan lanjutan.
Rabtsevich juga menemukan sinyal lain dengan periode 11,13 hari. Namun, ia menilai bukti untuk sinyal kedua itu belum cukup kuat untuk menyimpulkan adanya planet tambahan. Ia bahkan menolak hasil statistik dalam laporan awal setelah menyadari tingkat kepastiannya telah ditafsirkan secara berlebihan.
Kandidat planet menunggu pengamatan lanjutan
Jika sinyal pada TIC 4206066 benar-benar berasal dari sebuah planet, perkiraan awal menunjukkan ukurannya sekitar 1,4 kali ukuran Bumi. Objek itu diperkirakan menyelesaikan satu orbit dalam waktu sedikit lebih dari tiga hari. Suhu permukaannya diperkirakan mencapai sekitar 1.000 derajat Fahrenheit, atau 538 derajat Celsius.
Perkiraan itu masih bergantung pada dugaan bahwa sinyal tersebut memang disebabkan oleh planet. Karena itu, kandidat ini perlu diverifikasi menggunakan pengamatan independen sebelum statusnya dapat dipastikan. Sinyal peredupan saja tidak otomatis membuktikan sebuah planet telah ditemukan.
TESS berencana memantau bintang itu pada 31 Oktober hingga 26 November 2026, setelah usulan pengamatan dengan interval dua menit disetujui. Rabtsevich telah menghitung kapan sinyal seharusnya muncul jika hipotesisnya benar. Waktu tersebut memberi peluang bagi peneliti untuk menguji prediksi secara langsung.
Kisah ini memperlihatkan bahwa data teleskop yang tersedia untuk umum dapat dimanfaatkan oleh peneliti nonprofesional dengan bantuan perangkat analisis modern. Namun, peran AI tetap berada pada tahap membantu pencarian dan pengolahan. Jawaban akhirnya akan ditentukan oleh pengamatan berikutnya dan validasi ilmiah, bukan oleh kecocokan pola semata.