IHSG Tertekan, Sempat Jatuh ke Bawah 4.920
IHSG sempat merosot lebih dari 5 persen pada Senin sebelum ditutup melemah 3,64 persen. Sentimen MSCI dan rencana reformasi pasar modal menjadi sorotan.
IHSG sempat anjlok lebih dari 5 persen pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026, sebelum memangkas koreksi dan ditutup melemah 3,64 persen ke level 4.996. Tekanan jual membawa indeks ke kisaran 4.900, level terendah sejak Oktober 2020, di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana peninjauan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI.
Pada pembukaan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung turun 4,31 persen ke 4.961,87, atau merosot sekitar 223 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Tekanan berlanjut pada pagi hari. Hingga pukul 10.29 WIB, indeks tercatat di 4.916,81, turun 5,17 persen, setelah sempat menyentuh posisi terendah intraday 4.907,37.
Seiring perdagangan berjalan, IHSG mengurangi sebagian penurunan dan mengakhiri hari di level 4.996. Gerak indeks tetap mencerminkan tingginya kegelisahan pelaku pasar setelah kejatuhan tajam pada akhir pekan lalu.
Sentimen MSCI membayangi pergerakan IHSG
Penurunan pada Senin terjadi setelah IHSG ambles 11,6 persen pada Jumat, 16 Oktober 2026. Jika digabungkan dengan koreksi berikutnya, indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah turun sekitar 43 persen sepanjang tahun berjalan, menurut laporan CNBC Indonesia. Sumber yang sama menyebut penurunan tersebut menjadikan IHSG salah satu indeks utama dengan kinerja terburuk di dunia pada periode itu.
Pemicu utama yang disorot pasar adalah pengumuman MSCI mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang atau emerging market menjadi standalone market. Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi, bukan keputusan final. Pelaku pasar dapat menyampaikan tanggapan hingga 30 April 2027, sementara keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat 30 Juni 2027.
MSCI menyoroti sejumlah persoalan, antara lain transparansi struktur kepemilikan saham, kemudahan investor untuk berinvestasi, serta kekhawatiran mengenai dugaan perdagangan saham yang terkoordinasi. Jika Indonesia keluar dari kelompok indeks MSCI Emerging Markets, saham domestik tidak lagi menjadi bagian dari indeks tersebut, yang banyak digunakan pengelola dana global sebagai acuan.
Risiko yang dikhawatirkan adalah berkurangnya aliran dana, terutama dari investor yang mengikuti indeks. Goldman Sachs memperkirakan arus keluar dana pasif dapat mencapai 5,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp100,8 triliun apabila perubahan itu benar-benar terjadi. Dana aktif yang menjadikan indeks tersebut sebagai acuan disebut memiliki aset lebih dari 8 miliar dollar AS, meski keputusan jualnya tidak otomatis mengikuti perubahan indeks.
Regulator menyiapkan langkah dan melanjutkan dialog
Di tengah gejolak, BEI memangkas batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7 persen dari sebelumnya 15 persen. Kebijakan itu dimaksudkan memberi ruang bagi investor untuk mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan berdasarkan kondisi fundamental ekonomi.
OJK, BEI, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) juga telah bertemu dengan pelaku pasar dan finfluencer pada Minggu, 18 Oktober. OJK menyatakan akan kembali membahas perkembangan status bursa Indonesia dengan MSCI. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan berbagai upaya telah dilakukan dan berharap situasi pasar membaik.
“Makasih ya, kita udah melakukan berbagai upaya, semoga situasinya oke,” ujar Friderica di Jakarta, Senin (19/10/2026).
OJK sebelumnya memaparkan beberapa agenda reformasi, termasuk menurunkan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham dari 5 persen menjadi 1 persen. Klasifikasi tipe investor juga diperluas dari sembilan menjadi 39 jenis, sementara ketentuan free float akan dinaikkan secara bertahap.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menyebut masukan MSCI sejalan dengan rencana percepatan reformasi integritas pasar modal. OJK, bersama lembaga pengelola pasar, berkomitmen memperkuat penegakan hukum dan melanjutkan dialog dengan penyedia indeks serta investor institusi global.
Tekanan pasar meluas ke sentimen global
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada MSCI. Inflasi Amerika Serikat, ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak, serta rencana pengumuman pertumbuhan ekonomi China kuartal III dan keputusan suku bunga acuan pinjamannya turut menjadi perhatian pada pekan tersebut.
Pasar juga mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pekan itu dan langkah penegakan aturan oleh OJK. Saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, BYAN, dan TLKM, disebut menjadi pemberat indeks pada perdagangan Senin.
OJK menilai pasar modal domestik masih ditopang fondasi ekonomi yang terjaga, pertumbuhan basis investor, valuasi yang kompetitif, serta fundamental emiten yang secara umum positif. Namun, pemulihan kepercayaan akan bergantung pada konsistensi reformasi dan perkembangan pembahasan dengan MSCI. Bagi investor, perkembangan tersebut akan menjadi salah satu penentu arah pasar dalam beberapa bulan mendatang.