IHSG Tertekan, Rupiah dan Pasar Obligasi Berbeda Arah

IHSG kembali melemah pada pembukaan Rabu setelah anjlok 3,78 persen sehari sebelumnya. Rupiah menguat tipis, sementara pasar menanti perkembangan pemilu AS dan arah kebijakan BI.

ihsg-tertekan-rupiah-pasar-obligasi-berbeda-arah

IHSG kembali melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 4 November 2026, setelah sehari sebelumnya kehilangan hampir 4 persen. Indeks dibuka di posisi 4.856, turun 47,33 poin, menurut laporan Antara. Pergerakan itu memperpanjang tekanan di pasar saham, meski rupiah sempat menguat tipis dan imbal hasil obligasi pemerintah tidak berubah.

Rentetan gerak yang berlawanan ini memperlihatkan bahwa tekanan pasar tidak merata. Saham menghadapi aksi jual besar, sementara nilai tukar dan pasar surat utang bergerak lebih tenang pada penutupan Selasa. Investor kini mencermati perkembangan politik Amerika Serikat serta kemungkinan perubahan kebijakan moneter di dalam negeri.

Aksi jual meluas ke hampir seluruh sektor

Dalam perdagangan Selasa, 3 November, IHSG turun 192,54 poin atau 3,78 persen dan berakhir di level 4.904,29. Indeks sempat dibuka di sekitar 5.126, tetapi kemudian berbalik arah dan jatuh melewati batas psikologis 5.000 sebelum pukul 11.00 WIB.

Tekanan terjadi secara luas. Dari 718 saham yang tercatat bergerak pada hari itu, hanya 57 yang menguat. Sebanyak 624 saham turun dan 37 lainnya tidak berubah. Investor asing juga membukukan penjualan bersih senilai Rp575 miliar.

Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan seluruh sektor saham melemah. Bahan baku mengalami penurunan terdalam, sebesar 5,69 persen, disusul properti 5,16 persen dan energi 4,29 persen. Saham konsumen siklikal serta keuangan masing-masing turun 3,13 persen dan 3,09 persen.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar ikut menekan indeks. Di antaranya BBRI, BBCA, BMRI, AMMN, dan ASII. Nilai transaksi harian mencapai Rp11,7 triliun dengan volume 27,2 miliar saham. Skala penurunan dan banyaknya saham yang terkoreksi menandakan pelemahan bukan hanya terkonsentrasi pada beberapa emiten.

Perhatian tertuju pada pemilu Amerika dan BI

Di luar negeri, pelaku pasar mengamati pemilu sela Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump. Ketidakpastian mengenai hasil pemilu dan dampaknya terhadap kebijakan menjadi salah satu pertimbangan investor saat menentukan posisi di pasar.

Pergerakan bursa Amerika pada Selasa malam waktu setempat berlangsung beragam. Nasdaq Composite naik 0,83 persen menjadi 25.372,01, sedangkan S&P 500 bertambah 0,36 persen ke 7.568,92. Dow Jones justru turun 0,38 persen ke 51.786,72. Saham teknologi membantu Nasdaq, sementara Apple melemah hampir 2 persen setelah menyampaikan perkiraan margin yang mengecewakan dan penjualan iPad kuartal IV tahun fiskalnya tidak mencapai perkiraan analis.

Perhatian domestik juga tertuju pada kebijakan Bank Indonesia. Tim ekonom BCA menilai tekanan pada rupiah, keluarnya modal asing, dan risiko inflasi dari barang impor bisa mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. Kekhawatiran mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut disebut sebagai faktor yang dapat membebani arus modal.

Tim ekonom Permata Bank memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada November 2026, sehingga BI-Rate menjadi 6 persen. Perkiraan itu merupakan pandangan ekonom, bukan keputusan yang telah diumumkan bank sentral.

Rupiah menguat tipis, yield SBN tetap

Rupiah menutup perdagangan Selasa pada Rp18.135 per dollar AS, naik tipis 0,03 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya, Rp18.140. Sepanjang sesi, mata uang Indonesia sempat melemah hingga Rp18.165 sebelum berbalik menguat. Indeks dollar AS turun 0,06 persen ke 101,688 pada pukul 15.00 WIB.

Di pasar obligasi pemerintah, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun bertahan di 7,707 persen. Yield yang bergerak naik umumnya menandakan harga obligasi turun, sedangkan penurunan yield berkaitan dengan kenaikan harga.

Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 7 persen pada Senin, seiring harapan meredanya konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Bagi Indonesia yang merupakan pengimpor minyak bersih, penurunan harga tersebut berpotensi menjadi faktor yang meringankan beban. Namun, pasar saham tetap menghadapi tekanan jual dan perhatian investor pada Rabu tertuju pada kelanjutan pergerakan IHSG serta perkembangan sentimen global.

Duniafakta