Iran-AS: Selat Hormuz Jadi Syarat Pembicaraan

Iran menempatkan pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan pembatasan minyak sebagai syarat awal sebelum membahas program nuklir dengan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Teheran dan Riyadh melanjutkan pembicaraan keamanan regional.

iran-as-selat-hormuz-jadi-syarat-pembicaraan

Pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi salah satu syarat utama yang diajukan Iran dalam komunikasi dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang. Teheran juga meminta blokade terhadap pelabuhannya dihentikan dan pembatasan penjualan minyak dicabut sebelum pembahasan program nuklir dimulai.

Perundingan yang dimediasi Qatar belum menghasilkan terobosan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan konsultasi masih berjalan intensif. Keberhasilan pembicaraan, kata dia, bergantung pada keputusan Washington.

“Kami telah menyampaikan persyaratan dan proposal kami, dan semuanya bergantung pada rasionalitas politik Washington,” kata Araghchi, Senin (2/11), seperti dikutip media pemerintah Iran, IRNA.

Posisi itu memperlihatkan bahwa Teheran ingin membahas langkah-langkah untuk meredakan tekanan ekonomi dan membuka kembali jalur pelayaran sebelum masuk ke isu nuklir. Bagi kawasan dan pasar energi, perkembangan di meja perundingan berkelindan dengan keamanan di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak.

Tujuh langkah Iran mendahului isu nuklir

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan proposal tujuh langkah yang diajukan pada September masih menjadi dasar pembicaraan. Dokumen itu telah diringkas, sehingga menurut Teheran dapat dijalankan dalam waktu dua hari.

Isi proposal mencakup penghentian blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencabutan pembatasan atas penjualan minyak Iran. Teheran juga menghendaki pembatalan sanksi baru yang dikenakan terhadap negara itu.

Baru setelah tuntutan tersebut dipenuhi, Iran bersedia membuka pembahasan mengenai persoalan lain. Baghaei menegaskan bahwa program nuklir bukan bagian dari tahap awal. Ia juga membantah adanya pembicaraan untuk memindahkan persediaan uranium yang telah diperkaya tinggi ke negara lain.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menolak proposal tujuh langkah itu pada September. Namun, pada Senin ia mengatakan Iran ingin mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan menyebut kesepakatan tersebut mungkin terwujud. Pernyataan itu belum menghapus perbedaan mendasar mengenai urutan dan isi perundingan.

Seperti dilaporkan detikNews, komunikasi kedua negara berlangsung melalui mediator Qatar, tetapi belum tampak kesepakatan. Iran menyatakan persyaratannya, sementara hasilnya masih bergantung pada respons Washington. Dengan agenda yang bertahap, pembukaan jalur laut dan pelonggaran tekanan terhadap sektor minyak menjadi perkara yang harus dijawab lebih dahulu.

Teheran dan Riyadh jajaki keamanan kawasan

Pada saat berkomunikasi dengan Washington, Iran juga melanjutkan pembicaraan dengan Arab Saudi. Araghchi menyebut Teheran menginginkan mekanisme keamanan yang dibangun oleh negara-negara di kawasan, tanpa keterlibatan militer asing. Ia menyampaikan bahwa kontak dengan Riyadh masih berlangsung melalui platform X pada Selasa (3/11).

Pekan sebelumnya, pejabat senior Arab Saudi, Turki, dan Pakistan bertemu dengan pejabat Iran di Teheran. Pertemuan itu merupakan kontak tingkat tinggi pertama Iran dengan ketiga negara tersebut sejak Agustus. Riyadh menyatakan kunjungan itu dimaksudkan untuk membuka jalur negosiasi guna mencegah eskalasi militer terulang.

Upaya tersebut berlangsung saat hubungan kawasan masih dibayangi serangan. Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, dilaporkan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan bergerak menuju Selat Bab el-Mandeb. Kelompok itu sebelumnya menyerang fasilitas minyak dan bandara di Saudi, termasuk Bandara Internasional Riyadh. Serangan mengganggu penerbangan dan ekspor minyak, lalu dibalas Riyadh dengan serangan udara ke Yaman.

Ketegangan di dua jalur pelayaran, Hormuz dan Bab el-Mandeb, membuat pembicaraan keamanan tak hanya menyangkut hubungan bilateral Iran dan Saudi. Perkembangan di kawasan juga mendapat perhatian China dan Rusia. Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyerukan penyelesaian politik, sedangkan Rusia menyampaikan kekhawatiran atas kemungkinan aksi militer baru terhadap Iran dan meminta upaya diplomatik ditingkatkan.

Aramco mencari jalur ekspor tambahan

Risiko gangguan pasokan turut mendorong Saudi Aramco meninjau pilihan untuk memperluas jalur ekspor dan kapasitas di luar negeri. Salah satu opsi yang dijajaki adalah memperluas jaringan pipa East-West. Kepala Eksekutif Aramco Amin Nasser mengatakan perusahaan siap menaikkan produksi dengan cepat jika keadaan menuntut.

Selama ini, minyak mentah Saudi dikirim melalui terminal di wilayah timur yang menghadap Teluk, serta terminal di pesisir barat Laut Merah yang terhubung dengan jaringan pipa East-West. Perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran telah menekan produksi Aramco. Kenaikan harga minyak, menurut laporan tersebut, membantu mengimbangi berkurangnya volume produksi.

Harga minyak dunia turun hampir empat persen pada Senin (2/11), seiring harapan bahwa mediasi terbaru dapat membuka jalan diplomatik. Namun, sejumlah sumber Iran menilai kemungkinan serangan baru Amerika Serikat masih lebih besar daripada peluang tercapainya kesepakatan. Trump menyatakan tidak akan ada serangan baru sebelum pemilihan paruh waktu AS pada Selasa (3/11), sementara Teheran memperingatkan akan membalas secara agresif jika diserang lagi.

Untuk saat ini, nasib perundingan bergantung pada apakah Washington bersedia menanggapi tuntutan awal Iran. Selat Hormuz, sanksi, dan ekspor minyak tetap berada di pusat agenda, sementara pembicaraan keamanan regional dengan Riyadh terus berjalan.

Duniafakta