China Perluas Diplomasi Timur Tengah demi Amankan Energi

China memperluas pendekatan diplomatik ke Iran, Oman, dan Arab Saudi saat perang mengancam pelayaran di Selat Hormuz dan pasokan energi global.

china-perluas-diplomasi-timur-tengah-demi-amankan-energi

Gangguan perang Iran terhadap pelayaran dan pasokan energi mendorong China mengintensifkan pendekatan diplomatik di Timur Tengah. Beijing mengirim utusan khusus ke Iran, Oman, dan Arab Saudi, sembari mendorong Teheran dan Washington kembali berunding untuk meredakan konflik.

Langkah tersebut berlangsung ketika jalur energi penting di Selat Hormuz ikut terancam. Sebelum perang mengganggu pelayaran, sekitar seperlima ekspor energi dunia melewati perairan itu. Bagi China, salah satu importir energi terbesar, keamanan jalur tersebut berkaitan langsung dengan pasokan yang dibutuhkan ekonominya.

CNBC Indonesia melaporkan Menteri Luar Negeri China Wang Yi bertemu Ali Bagheri Kani, wakil sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, di Beijing. Wang mendorong penyelesaian melalui dialog dan negosiasi. Ia juga menyampaikan dukungan Beijing terhadap kedaulatan dan keamanan Iran.

Utusan China bergerak ke tiga negara

Beijing mengumumkan Zhai Jun, utusan khusus China untuk Timur Tengah, akan mengunjungi Iran, Oman, dan Arab Saudi pada November ini. ANTARA dan Kumparan juga memberitakan rencana perjalanan tersebut. Kunjungan itu menempatkan China berhubungan langsung dengan tiga negara yang memiliki kepentingan berbeda dalam situasi kawasan.

Hubungan China dengan Teheran telah terjalin erat. China merupakan mitra dagang terbesar Iran sekaligus pembeli utama minyak negara itu. Namun, kedekatan ekonomi tersebut belum serta-merta menghasilkan kemajuan diplomatik yang nyata dalam meredakan perang. Al Jazeera menilai pertemuan Wang dengan Bagheri Kani mencerminkan meningkatnya ketidaksabaran Beijing terhadap konflik yang terus berlarut.

Posisi Oman juga membuat negara itu penting bagi upaya China. Oman berada di seberang Iran, dipisahkan Selat Hormuz, dan memiliki pelabuhan di luar jalur perairan tersebut. Ketika pelayaran di selat terganggu, pelabuhan-pelabuhan itu menambah bobot hubungan Muscat dengan Beijing, meski bahan yang tersedia tidak merinci perubahan arus perdagangan akibat perang.

Hubungan dengan Oman diperkuat lewat kerja sama

Presiden China Xi Jinping menerima kunjungan kenegaraan Sultan Oman Haitham bin Tariq. Kunjungan itu menjadi yang pertama oleh kepala negara Oman sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1978. Dalam pertemuan tersebut, Xi menyampaikan bahwa Timur Tengah dan kawasan Teluk seharusnya tidak menjadi arena perebutan pengaruh maupun konflik geopolitik.

Kunjungan Haitham menghasilkan 14 dokumen kerja sama China-Oman. Bidangnya mencakup kecerdasan buatan, energi ramah lingkungan, rantai pasokan, dan pertukaran mata uang. Kedua negara juga menyerukan agar pelayaran aman di Selat Hormuz kembali berjalan serta meminta Amerika Serikat dan Iran memulai lagi dialog.

Seruan itu mempertemukan kepentingan diplomatik dengan kebutuhan ekonomi. Konflik bukan hanya mengancam hubungan antarnegara, tetapi juga jalur yang dilalui sebagian besar perdagangan energi dunia. Bagi China, kestabilan Hormuz penting karena negara itu bergantung pada pasokan energi dari luar negeri. Bagi Oman, letak geografis dan pelabuhannya membuat hubungan dengan Beijing kian strategis.

Beijing menghadapi batas pengaruh diplomatik

China menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas pecahnya konflik, sekaligus menyatakan dukungan kepada Iran. Sikap itu berjalan berdampingan dengan seruan agar perundingan dibuka kembali. Beijing perlu menjaga hubungan dengan Teheran, tetapi juga mendorong langkah yang dapat mengurangi risiko gangguan lebih luas di kawasan.

Perhatian China terhadap Arab Saudi terlihat dari rencana kunjungan Zhai Jun. CGTN juga memberitakan Wang Yi mengadakan pembicaraan dengan pejabat senior Saudi, sementara Kompas melaporkan seruan Xi untuk perdamaian di Timur Tengah dan kesiapan China membantu meredakan konflik. Informasi yang tersedia belum menunjukkan hasil konkret dari rangkaian pendekatan tersebut.

Untuk saat ini, agenda diplomatik Beijing mencakup pertemuan dengan Iran, penguatan hubungan dengan Oman, dan komunikasi dengan Arab Saudi. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada apakah dorongan dialog itu membuka kembali perundingan antara Iran dan Amerika Serikat, serta apakah pelayaran di Selat Hormuz dapat berlangsung aman.

Duniafakta