Api Arjuno-Welirang Meluas, 70 Titik Masih Terdeteksi
Kebakaran Gunung Arjuno-Welirang meluas ke sejumlah wilayah. Sekitar 70 titik api masih terdeteksi pada Selasa pagi dan ditangani tim gabungan melalui jalur darat.
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Arjuno-Welirang meluas dari Pasuruan ke Kabupaten Malang, Mojokerto, hingga Kota Batu. Hingga pagi Selasa (20/10), tim gabungan masih mendeteksi sekitar 70 titik api dan berupaya memadamkannya melalui jalur darat.
Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan laporan sehari sebelumnya, ketika titik api tercatat lebih dari 100. Namun, angka itu belum dapat dianggap sebagai kondisi akhir. Pergerakan api dan perubahan situasi di lapangan membuat data titik panas masih fluktuatif.
“Titik (api) kemarin itu lebih dari 100. Sekarang update pagi ini sebenarnya di angka 70, cuma itu (data) masih sangat fluktuatif. (Data) titik api masih bisa berubah tergantung kondisi lapangan,” kata Kepala UPT Tahura Raden Soerjo, Agustiningtyas Marini, Selasa (20/10).
Pemadaman darat dilakukan dari sejumlah titik
Petugas bersama masyarakat dan relawan bergerak menuju beberapa lokasi untuk menangani kebakaran. Pemadaman dilakukan dengan cara yang menyesuaikan kondisi medan, termasuk memukul api menggunakan gepyok dan membuat sekat bakar.
Sekat bakar dibuat untuk menahan atau menghambat rambatan api, terutama di bagian yang sulit dijangkau. Upaya itu menjadi salah satu cara tim mengurangi kemungkinan api meluas saat pemadaman langsung tidak mudah dilakukan.
Tim yang dikerahkan terdiri atas personel Polisi Kehutanan, Tahura Raden Soerjo, Manggala Agni, BPBD, TNI-Polri, serta relawan. Mereka berangkat dari sejumlah titik untuk menjangkau kawasan terdampak dan bekerja bersama dalam penanganan kebakaran.
Agustiningtyas, yang akrab disapa Tyas, mengatakan jumlah personel yang ikut bergerak cukup banyak. Dari satu titik, sekitar 30 orang diberangkatkan, sedangkan dari titik lain terdapat sekitar 50 personel.
Jumlah personel besar, kemampuan tetap jadi pertimbangan
Antusiasme untuk membantu penanganan disebut tinggi. Banyak relawan dan petugas ingin turun langsung ke lokasi, tetapi tidak semua dapat bergabung dalam tim yang naik ke kawasan kebakaran.
Menurut Tyas, personel yang diperbolehkan bertugas di lapangan harus memenuhi ketentuan dan memiliki kemampuan yang sesuai. Pembatasan itu diterapkan karena kondisi penanganan kebakaran membutuhkan keterampilan, bukan semata-mata jumlah tenaga.
“Banyak personel yang ikut, ada yang 30 orang berangkat dari satu titik, ada yang 50 personel dari titik lain. Kalau terkait tenaga personel sebenarnya banyak dan semangatnya memang ada, cuman skill atau kemampuan perlu diperhatikan karena khawatir seperti kejadian di Bromo,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengerahan bantuan perlu disertai pertimbangan keselamatan dan kesiapan personel. Di tengah banyaknya orang yang ingin membantu, tim di lapangan tetap harus memastikan mereka yang bertugas memiliki kemampuan untuk menghadapi situasi kebakaran.
Kebakaran bermula dari wilayah Pasuruan
Kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang pertama kali diketahui pada Kamis (15/10/2026) sore di wilayah Pasuruan. Api kemudian membesar dan merembet ke sejumlah wilayah lain, termasuk Kabupaten Malang, Mojokerto, serta Kota Batu.
Perluasan lintas wilayah itu membuat penanganan dilakukan dari beberapa titik. Sementara itu, jumlah titik api yang berubah-ubah menjadi salah satu hal yang terus dipantau petugas. Angka 70 yang dilaporkan pada Selasa pagi masih dapat berubah mengikuti kondisi lapangan.
Hingga laporan tersebut disampaikan, pemadaman masih berlangsung. Petugas gabungan mengandalkan kerja darat, penggunaan gepyok, dan pembuatan sekat bakar untuk menangani titik-titik yang terdeteksi. Perkembangan situasi berikutnya akan bergantung pada kondisi di kawasan kebakaran dan hasil pemantauan tim.