DBD Mataram: 178 Kasus, PSN Digencarkan

Kasus DBD di Kota Mataram tercatat 178 hingga 21 Oktober, lebih rendah dibandingkan total sepanjang 2025. Dinkes menggencarkan PSN menjelang musim hujan.

dbd-mataram-178-kasus-psn-digencarkan

Dinas Kesehatan Kota Mataram menggencarkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menjelang musim hujan. Hingga Rabu (21/10), tercatat 178 kasus demam berdarah dengue (DBD) di kota itu, jauh di bawah total kasus sepanjang 2025 yang mencapai 440. Dinkes menyebut perkembangan kasus saat ini masih terkendali, tetapi mengingatkan warga agar tetap waspada menghadapi perubahan musim.

Kepala Dinkes Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan, mengatakan belum ada penambahan kasus yang signifikan maupun laporan kematian terkait DBD. Meski kondisi belum menunjukkan lonjakan, upaya pencegahan tetap perlu dilakukan secara rutin, terutama di lingkungan yang berpotensi menjadi tempat genangan air.

Menurut Emirald, perubahan musim dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Karena itu, Dinkes tidak menunggu hujan turun untuk menggerakkan PSN. Pembersihan lingkungan dan pengelolaan tempat yang dapat menampung air perlu menjadi kebiasaan, bukan kegiatan sesaat ketika kasus meningkat.

PSN dilakukan bersama puskesmas dan lingkungan

Kegiatan PSN kembali digerakkan melalui puskesmas dengan melibatkan pihak kelurahan serta aparat lingkungan. Pelibatan unsur setempat dimaksudkan untuk mendorong warga memeriksa kondisi sekitar rumah dan mengurangi titik-titik yang berisiko menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Perhatian juga diarahkan pada barang bekas yang bisa menampung air. Warga diminta mengelolanya dengan baik, sekaligus memperhatikan kebiasaan menampung air bersih untuk kebutuhan rumah tangga. Wadah yang digunakan, termasuk yang berkaitan dengan kegiatan menyiram tanaman, perlu diperiksa agar tidak menjadi tempat genangan.

“Antisipasi harus terus dilakukan dengan meningkatkan PSN, kemudian menjaga kebersihan lingkungan,” kata Emirald.

Pesan tersebut menekankan pentingnya upaya pencegahan yang berulang dan dilakukan di tingkat rumah tangga. PSN, menurut Dinkes, tidak perlu menunggu pergantian cuaca atau munculnya laporan kasus di sekitar warga. Menjaga lingkungan tetap bersih dan memperhatikan air yang tertampung menjadi bagian dari langkah yang dapat dilakukan secara berkala.

Dinkes pantau tren penyakit melalui 11 puskesmas

Di luar pemantauan DBD, Dinkes Kota Mataram juga mencermati penyakit yang muncul selama musim kemarau. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih mendominasi dengan angka kasus rata-rata yang relatif tinggi. Kondisi ini menjadi salah satu perhatian kesehatan masyarakat ketika debu dan polusi udara berpotensi mengganggu saluran pernapasan.

Dinkes akan terus memantau data kesehatan secara berkala hingga akhir tahun melalui 11 puskesmas di Kota Mataram. Pemantauan itu digunakan untuk melihat tren penyakit dan menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan yang diperlukan. Dengan data yang diperbarui, perkembangan penyakit dapat dicermati, termasuk jika terdapat perubahan pada pola kasus.

Emirald mengimbau masyarakat menjaga kesehatan selama musim kemarau, antara lain dengan melindungi saluran pernapasan dari paparan debu dan polusi serta menjaga daya tahan tubuh. Warga juga dianjurkan mencukupi kebutuhan cairan, khususnya ketika beraktivitas di luar ruangan.

Ia menyarankan masyarakat minum sekitar 8–10 gelas air putih setiap hari. Imbauan itu disampaikan bersamaan dengan ajakan menjaga kebersihan lingkungan, yang tetap menjadi perhatian baik dalam upaya mengantisipasi DBD maupun menjaga kesehatan selama musim kemarau.

Dengan angka kasus DBD yang masih lebih rendah dibandingkan total tahun lalu, Dinkes tetap mendorong kewaspadaan warga. Pemantauan melalui puskesmas dan PSN yang berjalan rutin akan menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan musim. Warga dapat memulainya dari lingkungan terdekat: memeriksa wadah air, mengelola barang bekas, dan menjaga kebersihan sekitar rumah.

Duniafakta