Karhutla Gunung Lawu Meluas, Api Dekati Pipa Air Warga

Kebakaran di lereng Gunung Lawu meluas hingga sekitar 490 hektare. Petugas memperkuat penyekatan dan menyiapkan perlindungan pipa air warga, meski pemadaman udara terkendala cuaca.

karhutla-gunung-lawu-meluas-api-dekati-pipa-air-warga

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, meluas hingga sekitar 490 hektare pada Selasa (20/10/2026). Api yang terus bergerak membuat petugas memperkuat upaya pemadaman dan menyiapkan perlindungan bagi jaringan pipa air warga serta kawasan wisata.

Kepala Pelaksana BPBD Karanganyar Sugiharjo mengatakan perkiraan luas lahan terbakar mencapai 490 hektare. Petugas gabungan kini berupaya membatasi pergerakan api melalui pemadaman udara dan penyekatan manual, dengan tetap mempertimbangkan keselamatan personel di lapangan.

Pemadaman dari udara terkendala cuaca

Operasi water bombing yang direncanakan berlangsung empat kali pada Selasa hanya dapat dilakukan dua kali. Mendung dan kabut menghambat penerbangan helikopter, sementara angin kencang juga menjadi kendala dalam upaya memadamkan api dari udara.

“Dari pagi pukul 07.30 WIB telah dilakukan water bombing, kemudian yang kedua pukul 08.30 WIB. Rencananya empat kali, tetapi hanya terlaksana dua kali karena terkendala cuaca yang mendung dan kabut,” kata Sugiharjo, seperti dikutip Espos.id.

Di darat, personel gabungan dari TNI, Polri, dan relawan membuat sekat untuk menghambat api. Namun, kobaran yang membesar membuat petugas di sejumlah titik menghentikan penyekatan dan kembali ke posko demi menghindari risiko keselamatan.

Tim di Posko Induk Gondosuli, misalnya, sempat mengerahkan 43 personel untuk melakukan penyekatan. Mereka kemudian ditarik kembali saat api membesar. Di Posko Aju Cemoro Kandang, 46 personel berupaya membatasi pergerakan api di sekitar Pos II jalur pendakian, setelah api dilaporkan bergerak dari Pos III menuju Pos II.

Posko Candi Cetho disiapkan untuk melindungi pipa air

Perhatian petugas tertuju pada jalur pipa sumber mata air milik warga yang berisiko terdampak. BPBD Karanganyar menambah posko di kawasan Candi Cetho untuk memperkuat pemantauan dan mengantisipasi api menjalar ke jaringan air, objek wisata, maupun permukiman.

Posko Candi Cetho dijadwalkan mulai beroperasi pada Rabu (21/10). Di lokasi itu, petugas akan memeriksa kondisi pipa dan jalur penempatannya, mendata situasi lapangan, serta menyiapkan penyekatan di bawah Pos 1 untuk mencegah api meluas ke kawasan wisata.

“Posko induk besok akan dilakukan penyekatan di depan hutan alam, karena di situ ada pipa milik warga,” ujar Sugiharjo.

Ia mengatakan petugas juga akan berupaya menimbun atau melindungi pipa agar tidak terbakar jika api mendekat. Penyekatan manual direncanakan di sejumlah titik, termasuk kawasan hutan alam dan jalur yang berpotensi menjadi lintasan api.

Dengan tambahan posko di Candi Cetho, terdapat empat posko penanganan karhutla, yakni di Gondosuli, Cemoro Kandang, Tambak, dan Candi Cetho. Permukiman warga masih terpantau aman dari ancaman langsung, tetapi pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan arah pergerakan api.

Modifikasi cuaca menunggu asesmen BMKG

BPBD Karanganyar juga mengajukan bantuan modifikasi cuaca kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pelaksanaannya masih menunggu asesmen, termasuk penilaian terhadap kondisi atmosfer dan ketersediaan bibit awan yang memungkinkan operasi dilakukan.

Operasi udara direncanakan berlanjut dengan menyesuaikan cuaca dan keselamatan penerbangan. Sementara itu, penyekatan manual dan pemantauan lapangan tetap menjadi bagian penting dari upaya membatasi kebakaran.

Jalur pendakian Gunung Lawu melalui Cemoro Kandang masih ditutup hingga batas yang ditetapkan petugas karena kebakaran belum padam. Pengamanan juga diarahkan untuk melindungi kawasan wisata dan jaringan pipa air bersih milik warga.

Kebakaran di lereng Lawu menjadi bagian dari penanganan karhutla yang lebih luas di Jawa Tengah. Pemerintah provinsi menyatakan dukungan bagi penanganan kebakaran di Gunung Lawu dan Gunung Sumbing, sementara penyebab kebakaran di kedua kawasan diminta untuk diselidiki.

Di tengah keterbatasan cuaca, keberhasilan pemadaman akan bergantung pada koordinasi tim, kondisi lapangan, dan kemampuan menjaga sekat agar api tidak bergerak ke area yang lebih rentan. Petugas juga mengimbau masyarakat menghindari pembakaran terbuka dan tidak membuang puntung rokok sembarangan di kawasan hutan maupun pegunungan.

Duniafakta