Trump Buka Opsi Serang Lagi Situs Nuklir Iran
Trump menyebut militer AS dapat menyerang fasilitas nuklir Gunung Pickaxe dalam waktu singkat, tetapi belum memutuskan operasi. Iran memperingatkan akan membalas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan militer AS dapat menyerang satu atau dua target di Iran, termasuk fasilitas nuklir Gunung Pickaxe, dalam waktu singkat. Namun, ia belum memastikan operasi itu akan dilakukan. Pernyataan tersebut kembali memunculkan risiko serangan AS ke Iran, sementara Teheran memperingatkan akan membalas jika wilayahnya diserang.
Trump menyampaikan ancaman itu di kediamannya di Florida, Sabtu, 31 Oktober. Seperti diberitakan CNN Indonesia dengan mengutip AFP, ia menyebut Washington masih perlu menangani sejumlah lokasi, meski tidak sedang terburu-buru mengambil tindakan. Ia juga menggambarkan serangan terhadap target tersebut sebagai operasi yang bisa berlangsung cepat.
Gunung Pickaxe menjadi perhatian karena Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meyakini Iran sedang membangun kembali kemampuan militer serta nuklir di kompleks bawah tanah itu. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut. Belum ada kepastian mengenai langkah berikutnya dari Washington.
Keputusan Trump masih ditunggu
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan presiden belum menetapkan sikap. Menurut laporan Detik, Rubio menyatakan pemerintah belum memiliki pengumuman mengenai keputusan serangan dan tidak memandang persoalan itu sebagai perkara ringan. Ia juga menilai AS memiliki kemampuan untuk mencapai sasaran militer apabila Trump memilih menggunakan kekuatan.
Pernyataan Rubio memperlihatkan jarak antara ancaman yang disampaikan Trump dan keputusan resmi pemerintah. Trump menyebut operasi dapat dilakukan dalam hitungan menit, tetapi tidak menyatakan kapan atau apakah serangan akan benar-benar diperintahkan. Untuk saat ini, opsi militer masih terbuka, bukan keputusan yang telah diumumkan.
Laporan Republika yang merujuk media Israel menyebut negara itu kian dekat dengan kemungkinan perang baru melawan Iran, dengan keputusan akhir berada di tangan Trump. Sementara itu, rangkuman berita MetroTVNews memuat dugaan bahwa Trump dapat memerintahkan serangan besar jika Partai Republik kalah dalam pemilu. Informasi tersebut berupa dugaan, bukan pengumuman resmi dari presiden.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi disebut tidak berencana melakukan pembicaraan dengan pejabat AS. Antara melaporkan sikap itu di tengah meningkatnya tekanan dan ancaman serangan. Belum ada keterangan lebih lanjut dalam laporan tersebut mengenai jalur komunikasi lain antara kedua pemerintah.
Teheran siapkan respons atas ancaman
Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memperingatkan AS dan Israel agar tidak melancarkan serangan baru. Dalam pertemuan dengan sejumlah komandan senior militer, ia meminta setiap ancaman dijawab dengan tindakan yang segera dan berdampak. Pertemuan itu dilaporkan menjadi kali pertama Mojtaba bertemu langsung dengan para petinggi militer.
Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Staf Angkatan Bersenjata Ali Abdollahi, Kepala Angkatan Darat Amir Hatami, serta Komandan Garda Revolusi Islam Ahmad Vahidi. Mojtaba juga meminta militer Iran memperbarui daftar targetnya, yang menurut laporan CNN Indonesia mencakup berbagai aset AS, baik yang berwujud maupun tidak.
Peringatan itu menambah ketegangan karena Teheran tidak hanya menyampaikan penolakan terhadap serangan, tetapi juga memberi sinyal bahwa responsnya dapat menjangkau sasaran yang lebih luas. Namun, laporan yang tersedia tidak merinci bentuk operasi balasan atau target tertentu. Belum ada pula keterangan bahwa Iran telah mengambil tindakan baru sebagai respons atas pernyataan Trump.
Pengalaman serangan sebelumnya membayangi
Ancaman terbaru muncul setelah AS dan Israel menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz hingga Isfahan pada Juni tahun sebelumnya. Washington dan Tel Aviv saat itu menyatakan fasilitas nuklir Iran mengalami kerusakan besar. Teheran mengakui sejumlah lokasi terdampak, tetapi membantah tingkat kerusakan yang mereka gambarkan.
Iran juga pernah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di negara-negara Arab dan menutup Selat Hormuz, menurut laporan CNN Indonesia. Pengalaman itu membuat ancaman kali ini berpotensi membawa dampak melampaui sasaran yang disebut Trump. Namun, belum ada kepastian apakah rangkaian tindakan tersebut akan terulang apabila serangan baru terjadi.
Perbedaan penilaian mengenai kerusakan fasilitas nuklir dan tuduhan pembangunan kembali kemampuan Iran masih menjadi titik sengketa. Trump dan Netanyahu menyebut adanya upaya pemulihan, sedangkan Teheran menyangkalnya. Dengan belum adanya keputusan dari Gedung Putih, perkembangan berikutnya bergantung pada langkah yang diambil Trump dan respons pemerintah Iran terhadap ancaman tersebut.