Lula’s Army, Strategi WhatsApp yang Mengubah Kampanye
Saluran WhatsApp Lula’s Army disebut tumbuh dari sekitar 60.000 menjadi hampir 11 juta anggota menjelang putaran kedua pemilihan presiden Brasil.
Saluran WhatsApp yang berawal dengan sekitar 60.000 pengikut dilaporkan tumbuh menjadi hampir 11 juta anggota menjelang pemilihan presiden Brasil. Gerakan bernama Lula’s Army itu menjadi salah satu tumpuan kampanye Luiz Inacio Lula da Silva saat timnya berusaha mengejar ketertinggalan dari Flavio Bolsonaro di putaran pertama.
Andre Janones, penggerak operasi digital Lula, berada di balik perubahan strategi tersebut. Menurut laporan detikInet yang mengutip Al Jazeera, Janones menilai kampanye perlu membangun kembali semangat pendukung setelah hasil putaran pertama menunjukkan Lula tertinggal dari rivalnya. Ia kemudian mengarahkan perhatian ke kanal WhatsApp yang sudah diluncurkan beberapa bulan sebelumnya.
Langkah itu berlangsung ketika tim Lula menghadapi operasi buzzer kubu sayap kanan yang dinilai kuat di media sosial. Persaingan bukan semata soal siapa yang lebih ramai mengunggah pesan. Bagi Janones, saluran yang dapat menghimpun pendukung dalam jumlah besar bisa menjadi jalur untuk menjaga energi kampanye dan menyebarkan optimisme.
Dari 60.000 pengikut menjadi hampir 11 juta anggota
Nama saluran tersebut, Exercito do Lula, berarti Pasukan Lula. Setelah putaran pertama, jumlah pengikutnya disebut sekitar 60.000. Menjelang pemungutan suara berikutnya, angkanya melonjak hingga hampir 11 juta anggota. Laporan detikInet menyebut Lula kemudian terpilih kembali.
Perubahan skala itu memberi gambaran tentang jangkauan yang dicapai gerakan tersebut. Namun, laporan yang tersedia tidak merinci bagaimana pesan dibagikan dari saluran itu, seberapa sering anggota meneruskannya, atau perangkat apa yang dipakai untuk mengukur pengaruhnya terhadap suara pemilih. Karena itu, besarnya jumlah anggota tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh faktor di balik kemenangan Lula.
Yang tampak jelas adalah posisi WhatsApp dalam rencana Janones. Alih-alih hanya merespons percakapan di media sosial yang lebih luas, ia mengandalkan kanal yang telah dibangun sebelum kampanye memasuki fase genting. Saluran itu kemudian berkembang cepat pada saat pendukung Lula membutuhkan dorongan setelah hasil putaran pertama.
Janones kembali mengelola operasi digital Lula
Janones bukan orang baru dalam kampanye digital Lula. Ia pernah membantu mengoordinasikan operasi daring saat Lula berhadapan dengan Jair Bolsonaro pada pemilihan 2022. Jair adalah ayah Flavio Bolsonaro, yang menjadi lawan Lula dalam pemilihan yang diceritakan laporan tersebut.
Pengalaman itu membuat Janones merasa dapat membantu membalikkan keadaan. Tiga pekan sebelum pemungutan suara, posisi Lula disebut terancam. Flavio unggul pada putaran pertama, tetapi tidak meraih lebih dari 50 persen suara. Karena itu, keduanya melaju ke putaran kedua, sementara kandidat lain tersingkir.
Janones lalu mengunggah video dengan seruan optimistis. Ia menyampaikan keyakinan bahwa Lula akan kembali memimpin Brasil. Pesan itu menjadi penanda perubahan nada kampanye: dari menghadapi tekanan setelah putaran pertama menjadi menggalang keyakinan untuk pertarungan lanjutan.
“Dia memainkan peran yang sangat besar dalam kampanye ini, terus-menerus membangkitkan semangat pasukan kita setiap hari — pagi, siang, maupun malam,” ujar Lula.
Lula menyampaikan pujian itu di hadapan ribuan pendukung di Paulista Avenue, jalan utama di São Paulo. Ia menyebut Janones sebagai “jenderal kita”, sementara Janones terlihat tersipu. Pujian tersebut menempatkan pengelola kampanye digital itu sebagai figur penting dalam upaya menghidupkan kembali semangat pendukung.
Jangkauan besar, tetapi bukan satu-satunya ukuran
Perjalanan Lula’s Army memperlihatkan bahwa kanal pesan dapat menjadi alat pengorganisasian kampanye, terutama ketika tim merasa tertinggal dalam perebutan perhatian di internet. Pertumbuhan dari puluhan ribu menjadi jutaan anggota memberi gerakan itu jangkauan yang jauh lebih besar daripada saat putaran pertama selesai.
Meski begitu, kisah tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa WhatsApp sendirian menentukan hasil pemilihan. Bahan laporan menonjolkan peran Janones, besarnya kanal, dan upaya menjaga semangat pendukung, tetapi tidak memaparkan data tentang perubahan pilihan pemilih ataupun hubungan langsung antara jumlah anggota dan perolehan suara. Klaim bahwa gerakan itu “menaklukkan algoritma” lebih tepat dibaca sebagai gambaran keberhasilan menjangkau pendukung, bukan penjelasan teknis tentang cara kerja platform.
Setelah kemenangan Lula, metode Janones dan pertumbuhan Lula’s Army ramai dibicarakan. Kisah yang tersisa bukan hanya tentang jumlah anggota, melainkan bagaimana sebuah kampanye yang terdesak memilih mengaktifkan jaringan yang sudah tersedia. Rincian mengenai seberapa besar kontribusi saluran itu terhadap hasil pemilihan tidak dijabarkan dalam laporan tersebut.