Pemilu Israel: Netanyahu Unggul, Mayoritas Belum Terbentuk
Proyeksi sementara menempatkan blok Benjamin Netanyahu di depan, tetapi belum ada kubu yang mencapai mayoritas di Knesset. Partai Ra’am dan kelompok kecil berpotensi memengaruhi negosiasi pemerintahan.
Benjamin Netanyahu berada di posisi teratas dalam proyeksi terbaru pemilu Israel, tetapi keunggulan itu belum cukup untuk mengamankan pemerintahan. Setelah 57,3 persen suara dihitung, blok pendukung perdana menteri diperkirakan memperoleh 55 kursi, sedangkan kelompok anti-Netanyahu pimpinan Gadi Eisenkot meraih 49 kursi.
Angka tersebut masih berupa proyeksi, bukan hasil akhir. Knesset memiliki 120 kursi dan sebuah blok membutuhkan sedikitnya 61 kursi untuk menguasai mayoritas. Dengan demikian, siapa pun yang memimpin belum dapat membentuk pemerintahan tanpa dukungan dari partai lain atau kesepakatan politik yang lebih luas.
Proyeksi berubah setelah penghitungan suara
Persaingan berlangsung ketat sejak hasil awal diumumkan. Bloomberg melaporkan tiga exit poll yang dirilis setelah tempat pemungutan suara ditutup pada pukul 22.00 waktu setempat, Selasa, justru menempatkan blok Eisenkot sedikit di depan, dengan perkiraan 52 kursi berbanding 50 untuk aliansi sayap kanan dan religius Netanyahu.
Gambaran itu berbalik dalam penghitungan sementara yang kemudian dilaporkan Komite Pemilihan Umum dan dikutip Times of Israel. Blok Netanyahu diproyeksikan mendapatkan 55 kursi, sementara kubu lawan memperoleh 49. Likud, partai yang dipimpin Netanyahu, diperkirakan mengantongi 27 kursi. Angka itu lebih tinggi daripada proyeksi sebelumnya, yakni 25 kursi.
Perbedaan hasil exit poll dan hitung sementara menegaskan bahwa peta dukungan masih dapat bergeser. Namun, ketiga stasiun televisi nasional Israel yang disebut dalam laporan DW tidak memperkirakan satu kubu pun mencapai ambang mayoritas. Negosiasi setelah pemilu pun berpotensi menjadi penentu.
Partai kecil dan blok Arab berpeluang menentukan
Ketidakpastian tidak hanya menyangkut dua kubu utama. Partai Ra’am diperkirakan meraih tujuh kursi, menurut Warta Ekonomi, sehingga berpotensi menjadi salah satu kunci dalam pembentukan pemerintahan. Perolehan itu dapat membuat dukungannya diperhitungkan oleh pihak yang berusaha mengumpulkan cukup kursi.
Namun, pilihan tersebut tidak sederhana. Netanyahu dan Eisenkot sebelumnya sama-sama menolak pemerintahan yang bergantung pada dukungan blok Arab. Jika hasil akhir tetap membuat kedua kubu jauh dari 61 kursi, mereka akan menghadapi tekanan untuk mencari dukungan di luar barisan masing-masing atau mempertimbangkan bentuk kesepakatan lain.
Partai-partai kecil juga berhadapan dengan ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen. DW menyebut Amcha Israel, yang dipimpin mantan komandan militer Ofer Winter, dan Partai Reservis berada di sekitar batas tersebut. Partai Reservis belum menyatakan dukungan kepada salah satu kubu utama. Bila sebuah partai gagal menembus ambang, suaranya tidak menghasilkan kursi, sehingga peluang blok untuk membangun mayoritas dapat ikut terpengaruh.
Perhatian terhadap perolehan partai kecil datang bersamaan dengan tingginya keikutsertaan pemilih. Hingga pukul 18.00 pada Selasa, tingkat partisipasi tercatat 66,7 persen, menurut Komite Pemilihan Umum Pusat Israel. Angka pada jam itu merupakan yang tertinggi sejak pencatatan sejenis dimulai pada 1973. Laporan DW membandingkannya dengan 65,2 persen pada 1973 dan 1988, serta 57,7 persen pada pemilu 2022.
Netanyahu dan Eisenkot sama-sama mengklaim mandat
Netanyahu tetap menyatakan akan berupaya membentuk pemerintahan yang bertumpu pada partai-partai sayap kanan. Dalam pidato kepada pendukungnya pada Rabu dini hari, ia meminta publik menunggu hasil resmi dan menyebut Likud sebagai partai terbesar di Israel. “Kita harus membentuk pemerintahan sayap kanan yang kuat,” kata Netanyahu.
Ia juga mengaitkan agenda keamanan dengan peluang bekerja bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadapi Iran. Pernyataan itu disampaikan saat hasil pemilu belum memastikan siapa yang akan mengendalikan parlemen berikutnya.
Eisenkot, mantan panglima militer yang memimpin oposisi, menilai turunnya dukungan terhadap koalisi pemerintah sebagai tanda bahwa Netanyahu kehilangan mandat. Ia mendesak perdana menteri mundur dan memperingatkan agar keputusan keamanan besar, termasuk memulai perang baru, tidak digunakan untuk kepentingan politik. Eisenkot juga menolak gagasan pemilu ulang sebagai jalan keluar.
Isu wajib militer turut menjadi bagian dari agenda Eisenkot. Ia mengusulkan perluasan kewajiban dinas militer, termasuk menghapus pengecualian bagi laki-laki Yahudi ultra-Ortodoks. Perdebatan itu dapat menjadi salah satu bahan tawar dalam perundingan antarkelompok, meskipun hasil resmi pemilu belum tersedia.
Untuk saat ini, belum ada susunan pemerintahan baru yang dapat dipastikan. Penghitungan suara masih berjalan, sementara perbedaan antara exit poll dan proyeksi setelah sebagian suara dihitung membuka ruang bagi perubahan angka. Setelah hasil final diketahui, partai-partai harus menentukan apakah dapat menyepakati koalisi yang memenuhi ambang 61 kursi.