Demo Mahasiswa Jakarta Tuntut Tindak Lanjut Karhutla

Mahasiswa Trisakti berunjuk rasa di Medan Merdeka Selatan, menuntut penanganan karhutla dan tindak lanjut konkret dari pemerintah. Aksi itu menyusul demonstrasi di Bundaran HI sehari sebelumnya.

demo-mahasiswa-jakarta-tuntut-tindak-lanjut-karhutla

Ratusan mahasiswa Universitas Trisakti kembali berunjuk rasa di Jakarta pada Kamis (29/10), kali ini di Jalan Medan Merdeka Selatan. Mereka menuntut pemerintah bertindak atas kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus menyuarakan persoalan lain yang dinilai belum ditangani secara memadai.

Aksi semula direncanakan berlangsung di depan Istana Negara. Namun, menurut laporan BBC News Indonesia, mahasiswa mengalihkan titik demonstrasi setelah sempat dihadang aparat. Hingga pukul 17.30 WIB, para peserta masih menyampaikan kritik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Di atas mobil komando, seorang mahasiswa menyerukan keadilan bagi Papua. Ia juga menuntut penghentian militerisme di wilayah tersebut, yang turut menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Di hadapan orator, mahasiswa lain duduk menyimak. Spanduk besar berisi tuntutan dibentangkan, sementara bendera hitam-putih berkibar di sekitar massa.

Mahasiswa minta janji pemerintah punya tenggat

Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, Muhammad Putra, mengaitkan tuntutan dalam aksi dengan sejumlah persoalan yang menurutnya belum mendapat penanganan cepat. Ia meminta karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional dan menyinggung banjir di Sumatra yang, menurutnya, telah berlangsung hampir setahun.

Putra juga mempersoalkan alokasi anggaran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menyebut anggaran Rp1 triliun per hari untuk program tersebut dapat dialihkan untuk membantu penanganan bencana. Angka dan usulan itu merupakan pernyataan Putra dalam aksi, bukan rincian anggaran yang dijelaskan dalam laporan BBC.

Di tengah demonstrasi, Staf Khusus Kementerian Sekretariat Negara Bin Bin Firman Tresnadi mendatangi mahasiswa. Ia berjanji meneruskan aspirasi mereka dan mengatakan persoalan karhutla akan dibicarakan dengan Kementerian Kesehatan. Mahasiswa lantas meminta tindak lanjut konkret diumumkan paling lambat keesokan harinya.

Bin Bin tidak menyanggupi batas waktu tersebut. Ia memperkirakan tindak lanjut dapat dibicarakan sekitar pekan berikutnya. Mahasiswa yang tidak puas kemudian meminta Bin Bin menyatakan siap mundur apabila janjinya tidak terlaksana. Perdebatan mengenai tenggat itu memperlihatkan bahwa massa tidak hanya meminta aspirasi diterima, tetapi juga menuntut kepastian langkah setelah pertemuan.

Tuntutan meluas dari karhutla ke kinerja pejabat

Dalam pernyataan yang dibagikan melalui media sosial, Kepresidenan Mahasiswa Universitas Trisakti menyebut demonstrasi sebagai bentuk tanggung jawab moral. Mereka mengkritik penguasa yang dinilai meminta kepercayaan publik, tetapi tidak cukup mendengar kritik maupun mempertanggungjawabkan keputusan.

Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Trisakti (BEM FH Usakti) menyoroti dampak kebakaran hutan dan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat. Organisasi itu juga menyerukan pemberantasan inkompetensi pejabat publik dan penghapusan rangkap jabatan. Dalam unggahannya, mereka menulis, “Ketika kekuasaan gagal menjalankan tanggung jawabnya, mahasiswa tidak boleh memilih diam.”

Seruan tersebut muncul bersama tuntutan pemulihan sektor ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, dan kesehatan nasional. Bagi para pengunjuk rasa, persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri: kebakaran berdampak kepada warga, sementara keputusan pemerintah menentukan bagaimana penanganannya dilakukan. Aksi di Medan Merdeka Selatan pun menggabungkan desakan terkait bencana dengan kritik atas kapasitas pejabat dan kebijakan publik.

Aksi sehari sebelumnya berlangsung di Bundaran HI

Demonstrasi Trisakti itu berlangsung sehari setelah mahasiswa dan warga sipil berunjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Rabu (28/10), bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. BBC melaporkan massa berhasil masuk ke kawasan tersebut setelah aksi serupa beberapa kali dihalangi aparat dalam bulan-bulan sebelumnya.

Di Bundaran HI, peserta membentangkan spanduk yang menyoroti karhutla serta mengkritik pemerintahan. Sekitar pukul 18.00 WIB, polisi berupaya mendorong massa menjauh dan membentuk barikade dengan helm serta tameng. Sejumlah gas air mata terdengar dilepaskan. Hujan deras turun sekitar pukul 19.00 WIB, sebelum demonstran dan aparat perlahan meninggalkan lokasi.

Rangkaian aksi itu menempatkan penanganan karhutla sebagai salah satu isu utama yang dibawa mahasiswa ke ruang publik. Namun, tuntutan mereka mencakup pula pemulihan berbagai sektor dan evaluasi kinerja pejabat. Setelah Bin Bin menjanjikan pembicaraan lanjutan sekitar pekan berikutnya, mahasiswa masih menunggu tindak lanjut yang dapat diumumkan kepada publik.

Duniafakta