Sekolah Rakyat: Prestasi Tumbuh, Dukungan Diperluas
Siswa Sekolah Rakyat mencatat prestasi di berbagai tingkat dalam setahun. Pemerintah juga menyiapkan fasilitas, pemetaan bakat, dan pendampingan bagi anak dari keluarga kurang mampu.
Ratusan capaian siswa Sekolah Rakyat dalam setahun terakhir berjalan beriringan dengan upaya membuka akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu. Di Makassar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut para siswa meraih 11 prestasi internasional dan lebih dari 200 prestasi nasional. Lebih dari 1.100 siswa juga mencatat capaian di bidang olahraga, seni, dan sains.
Angka tersebut disampaikan dalam peringatan satu tahun Sekolah Rakyat di GOR Sudiang, Makassar, pada Rabu, 28 Oktober 2026, seperti diberitakan detikcom. Bagi pemerintah, capaian itu bukan semata urusan piala. Sekolah ini diharapkan memberi kesempatan kepada anak yang sebelumnya sulit mengakses pendidikan untuk belajar, berkembang, dan merancang masa depan.
Capaian siswa tercatat di berbagai jenjang
Laporan ANTARA menyajikan rincian prestasi siswa sepanjang 2025 dengan cakupan kategori yang lebih luas. Tercatat empat capaian internasional, 674 tingkat nasional, 71 regional, 513 provinsi, 842 kabupaten atau kota, 89 kecamatan, serta 1.347 tingkat sekolah.
Jumlah dalam dua laporan itu berbeda. Detikcom mengutip pernyataan Mensos tentang capaian selama satu tahun dan menyebut beberapa kategori utama, sedangkan ANTARA merinci catatan sepanjang 2025 sampai tingkat sekolah. Karena periode dan pengelompokan yang disampaikan tidak seragam, angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai konteks masing-masing, bukan dijumlahkan begitu saja.
Di Sukoharjo, sejumlah siswa memperlihatkan kemampuan mereka dalam acara pengenalan lingkungan sekolah. Mereka tampil melalui baris variasi, silat, drama musikal, paduan suara, dan pembacaan puisi. Ada pula siswa yang menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan Korea.
Perubahan yang ingin dicapai Sekolah Rakyat tidak berhenti pada prestasi formal. Saifullah menyampaikan bahwa para siswa kini lebih berani tampil di depan umum, lebih percaya diri, dan lebih disiplin. Pertunjukan siswa di Sukoharjo menjadi salah satu gambaran perubahan itu, setelah sebagian dari mereka sebelumnya menghadapi hambatan untuk bersekolah.
Akses pendidikan dan pendampingan jadi perhatian
Kisah Khustimah, siswa tingkat SMA di Sekolah Rakyat Sukoharjo, memperlihatkan arti akses tersebut bagi keluarga. Ia sempat berhenti sekolah selama setahun karena keterbatasan ekonomi. Ayahnya, Mulyadi, bekerja sebagai juru kunci makam sejak 2002 dengan penghasilan sekitar Rp350.000 per bulan, kadang bertambah ketika ada keluarga yang berziarah. Khustimah juga pernah membantu membersihkan makam untuk menambah penghasilan keluarga.
ANTARA melaporkan bahwa Mulyadi bersyukur anaknya dapat melanjutkan pendidikan. Sekolah menjadi jalan agar Khustimah bisa menyelesaikan pendidikan dan kelak membantu keluarganya. Pengalaman itu menggambarkan tantangan yang hendak dijangkau program ini: anak-anak yang berisiko tertinggal karena keadaan ekonomi rumah tangga.
Fasilitas sekolah permanen menjadi bagian dari dukungan tersebut. Menurut keterangan Saifullah yang dikutip detikcom, 100 Sekolah Rakyat permanen telah dibangun di sejumlah provinsi. Sebanyak 93 unit sudah digunakan, sementara tujuh lainnya masih dalam proses pembangunan. Fasilitas yang disebut mencakup asrama, ruang kelas, laboratorium, ruang makan, tempat ibadah, dan sarana olahraga.
Kementerian Sosial juga memetakan minat dan potensi siswa melalui pendekatan Talent DNA. Lebih dari 11.000 anak telah mengikuti pemetaan itu. Saifullah menyebut empat dari setiap sepuluh anak menunjukkan bakat di bidang sains dan teknologi, dengan potensi lain antara lain pada pendidikan, hukum, serta layanan kesehatan.
Pemetaan minat berjalan berdampingan dengan kebutuhan pendampingan psikologis. Hasil asesmen yang disampaikan Mensos menunjukkan sekitar satu dari tiga anak memerlukan dukungan terkait persoalan emosional. Sekitar satu dari enam siswa kehilangan ayah, ibu, atau keduanya, sementara delapan dari sepuluh anak dinilai memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Kemensos menyebut pendekatan Sekolah Rakyat mencakup pendidikan sekaligus pemulihan. Kegiatan siswa meliputi pelatihan kecakapan hidup dan vokasional, olahraga, seni, klub bahasa asing, serta kepramukaan. Pendampingan sehari-hari dilakukan oleh hampir 5.000 guru, hampir 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama, menurut Saifullah.
Pembangunan tujuh sekolah permanen yang masih berlangsung menjadi salah satu pekerjaan lanjutan. Sementara itu, pemetaan bakat dan pendampingan siswa akan menentukan bagaimana potensi yang sudah teridentifikasi dapat dikembangkan di sekolah.