SMKN 7 Mataram Tata Pembinaan Talenta Siswa
SMKN 7 Mataram menggelar workshop untuk menyatukan pembina ekskul, pelatih, ketua kegiatan, dan wali kelas dalam upaya menata pembinaan talenta siswa.
SMKN 7 Mataram mengumpulkan pembina kegiatan ekstrakurikuler, pelatih, ketua ekskul, dan sejumlah wali kelas untuk membicarakan pengelolaan talenta siswa. Workshop yang digelar pada 24 Oktober 2026 itu diikuti sekitar 40 peserta, dengan tujuan agar potensi yang selama ini belum terkoordinasi dapat dibina lebih terarah.
Kepala SMKN 7 Mataram Kaswadi mengatakan, sekolah melihat ada siswa dengan kemampuan di berbagai bidang yang belum berkembang maksimal. Karena itu, pencarian bakat tidak cukup berhenti pada mengenali kemampuan. Sekolah juga perlu menyusun pembinaan agar siswa mendapat dukungan untuk mengasahnya.
Seperti dilaporkan SUARANTB.com, peserta workshop berasal dari unsur yang berhubungan langsung dengan kegiatan dan perkembangan siswa. Komposisi itu mencakup seluruh pembina ekskul, pelatih, ketua ekskul, serta beberapa wali kelas yang menaruh perhatian pada pencarian siswa berbakat.
Koordinasi menjadi perhatian sekolah
Kaswadi menilai potensi siswa di sekolahnya cukup banyak, tetapi selama ini belum dikelola dengan koordinasi yang baik. Ia berharap workshop menjadi salah satu jalan untuk merancang pembinaan yang teratur dan terencana. Dengan pengelolaan seperti itu, kemampuan siswa diharapkan berkembang dan turut membawa nama baik sekolah.
Pesan yang disampaikan kepada peserta juga menyentuh soal kerja bersama. Berbagai potensi, menurut Kaswadi, tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri tanpa komunikasi antara pihak yang mendampingi siswa. Pembina ekskul, pelatih, ketua kegiatan, dan wali kelas memiliki peran masing-masing dalam mengenali kemampuan anak, sehingga koordinasi di antara mereka menjadi bagian dari upaya pembinaan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 7 Mataram, Moharoyanti Sukma, menjelaskan workshop tersebut digagas karena banyak siswa berprestasi. Namun, pembinaan terhadap talenta mereka belum berjalan secara profesional dan proporsional. Ia berharap pembahasan dalam kegiatan itu membantu sekolah mengelola kemampuan siswa dengan lebih baik.
Harapan tersebut menempatkan workshop sebagai ruang untuk membicarakan cara sekolah mendampingi bakat, bukan sekadar memberi label kepada siswa yang dianggap menonjol. Bagi sekolah, kemampuan yang ditemukan perlu mendapat perhatian lanjutan. Bentuk pembinaan yang terencana diharapkan membuat potensi siswa tidak terabaikan atau berkembang tanpa arahan.
Bakat perlu ruang untuk berkembang
Narasumber workshop, Fakhrurrozi Ansori, menekankan bahwa proses mengenali talenta perlu diteruskan dengan pemahaman, bimbingan, latihan, dan kesempatan untuk berkembang. “Talenta tidak cukup hanya ditemukan. Talenta harus dipahami dibimbing, dilatih dan diberi ruang untuk bertumbuh,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap generasi memiliki cara berbeda dalam menggunakan teknologi. Karena itu, pendampingan talenta perlu disertai upaya menggali potensi dan menguji informasi. Fakhrurrozi mengajak peserta untuk percaya pada proses, alih-alih mengarahkan semua siswa agar berkembang dengan cara yang sama.
Gagasan itu sejalan dengan penjelasan Kaswadi mengenai fungsi sekolah. Menurut dia, sekolah bukan hanya tempat untuk mengembangkan pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan dan pembinaan karakter. Ia mengaitkan kebutuhan tersebut dengan kondisi saat ini, ketika pembinaan karakter dinilai penting.
Dalam pandangan Fakhrurrozi, pengelolaan talenta bukan upaya menyeragamkan siswa. Pendampingan seharusnya membantu keunikan masing-masing anak tumbuh melalui jalur yang tepat. Ia juga menghubungkan perkembangan talenta dengan interaksi, kemampuan berpikir kritis, dan proses belajar siswa.
Workshop itu belum dengan sendirinya menjadi hasil akhir pembinaan. Harapan yang disampaikan para pengelola sekolah ialah agar potensi siswa ditangani secara lebih terkoordinasi, sementara pembina dan wali kelas dapat ikut memperhatikan perkembangannya. SUARANTB.com melaporkan kegiatan tersebut berlangsung pada 24 Oktober; langkah berikutnya yang diharapkan sekolah adalah menjalankan pembinaan secara teratur dan terencana.