Saham Naik 2026: ALKA Melonjak 1.148,6%

ALKA memimpin daftar saham dengan kenaikan 1.148,6 persen sepanjang 2026. Di balik lonjakan tersebut, kinerja dan perkembangan korporasi tiap emiten menunjukkan cerita berbeda.

saham-naik-2026-alka-melonjak-11486-persen

Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kenaikan tajam sepanjang 2026, dengan PT Alakasa Industrindo Tbk. (ALKA) memimpin setelah menguat 1.148,6 persen secara year-to-date (YTD). Data yang diberitakan CNBC Indonesia pada 3 Oktober 2026 itu juga menempatkan PT Asia Sejahtera Mina Tbk. (AGAR) dan PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. (MGLV) di antara saham dengan lonjakan terbesar.

AGAR naik 558,3 persen, sedangkan MGLV menguat 506,4 persen sejak awal tahun. Secara keseluruhan, sepuluh saham teratas dalam daftar tersebut telah mencatat kenaikan lebih dari 280 persen. Namun, laju harga yang tinggi tidak selalu berjalan seiring dengan perbaikan kinerja keuangan. Perkembangan bisnis dan keterbukaan informasi emiten tetap menjadi hal penting untuk dicermati.

ALKA memimpin kenaikan, kinerja masih tertekan

Di balik kenaikan YTD 1.148,6 persen, kinerja keuangan ALKA belum menunjukkan perbaikan dalam skala yang sama. Pada kuartal I-2026, perseroan membukukan rugi bersih sekitar Rp3,9 miliar. Angka itu membesar dibandingkan rugi Rp1,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan perusahaan juga turun. ALKA mencatat pendapatan Rp18,6 miliar pada kuartal I-2026, lebih rendah dari Rp69,4 miliar setahun sebelumnya. Perbedaan antara lonjakan harga saham dan capaian keuangan tersebut menjadi salah satu perkembangan yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan saham perseroan.

Pergerakan ALKA terbilang tajam dalam beberapa periode. Pada 20–24 Juli 2026, sahamnya sempat naik 89,66 persen dalam sepekan. Sepanjang Agustus, kenaikannya kembali tercatat mencapai 167,06 persen.

BEI memasukkan ALKA ke dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) pada Agustus 2026. Tingkat konsentrasi kepemilikannya tercatat di atas 98 persen. Status HSC bukan dengan sendirinya menunjukkan adanya pelanggaran, tetapi menandakan kepemilikan saham terkonsentrasi pada sebagian kecil pemegang saham.

AGAR menguat di tengah rencana perubahan pengendali

AGAR berada di posisi kedua dalam daftar dengan kenaikan 558,3 persen secara YTD. Salah satu perkembangan korporasi yang menyita perhatian terjadi pada Juli 2026, ketika Suprajitno Sutomo mengumumkan rencana mengambil alih sedikitnya 51 persen saham perusahaan dan berpotensi menjadi pengendali baru.

Rencana itu mencakup pembelian 450 juta saham dari PT Indo Kreasi Pratama serta sedikitnya 60 juta saham tambahan dari pemegang saham lain. Di saat yang sama, kinerja AGAR pada semester I-2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penjualan bersih AGAR naik sekitar 59,5 persen menjadi Rp141,9 miliar. Perseroan juga berbalik membukukan laba bersih sekitar Rp1,0 miliar, setelah mencatat rugi Rp4,1 miliar pada semester I tahun sebelumnya. Seperti ALKA, AGAR turut masuk dalam daftar HSC BEI dengan tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi.

MGLV beralih ke infrastruktur digital dan pusat data

Kenaikan MGLV sebesar 506,4 persen terjadi bersamaan dengan perubahan besar dalam arah bisnis perusahaan. Sebelumnya bernama PT Panca Anugrah Wisesa Tbk., perseroan bergerak dalam perdagangan dan produk interior rumah. Setelah PT Nextier Datamate Center masuk sebagai pengendali, nama perusahaan berubah menjadi PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk. dan fokus bisnisnya bergeser ke infrastruktur digital serta pusat data AI.

Perubahan itu disertai pelepasan 13 anak usaha yang berkaitan dengan bisnis lama. MGLV juga berencana menerbitkan maksimal 285,73 juta saham melalui rights issue dengan harga pelaksanaan Rp8.880 per saham. Perseroan membidik dana sekitar Rp2,54 triliun untuk mendukung pengembangan bisnis pusat data.

Melalui dua anak usaha, MGLV menargetkan fasilitas pusat data dengan kapasitas gabungan 102 MW. Kapasitas itu terdiri dari 42 MW di Jababeka dan 60 MW di Batang. Dua anak usahanya juga memperoleh fasilitas pinjaman sekitar Rp10,75 triliun dari BNI untuk mendukung pengembangan kedua fasilitas tersebut.

Lonjakan harga perlu dibaca bersama perkembangan emiten

Performa ALKA, AGAR, dan MGLV memperlihatkan bahwa saham dengan kenaikan tinggi dapat memiliki latar belakang berbeda: dari konsentrasi kepemilikan, rencana perubahan pengendali, hingga peralihan bisnis dan ekspansi pusat data. Karena itu, persentase kenaikan saja belum cukup untuk menggambarkan kondisi sebuah emiten.

Investor perlu mencermati laporan keuangan, aksi korporasi, dan keterbukaan informasi perusahaan saat menilai pergerakan saham. Langkah tersebut membantu menempatkan reli harga dalam konteks perkembangan bisnis, terutama ketika kenaikannya berlangsung jauh lebih cepat daripada perubahan kinerja keuangan.

Duniafakta