Gasigogi, Film Lee Hwan-kyung Dibintangi Vino dan Pevita

Vino G. Bastian memerankan ayah yang berjuang menyelamatkan putranya dalam Gasigogi, film terbaru Lee Hwan-kyung yang juga dibintangi Pevita Pearce.

gasigogi-film-lee-hwan-kyung-vino-pevita

Vino G. Bastian dan Pevita Pearce akan membintangi Gasigogi, film terbaru sutradara Korea Selatan Lee Hwan-kyung yang mengambil latar di Indonesia. Vino memerankan Jiwa, seorang ayah yang berjuang menyelamatkan putranya, Juna, yang mengidap kanker darah. Film produksi Falcon Pictures bersama Hwantasy Entertainment itu kini tengah menjalani proses produksi.

Pengumuman jajaran pemain disampaikan Falcon Pictures pada Sabtu, 24 Oktober. Selain Vino dan Pevita, film ini turut dibintangi Faradina Mufti, Altaaf Akavi, Indro Warkop, Dea Panendra, Indra Jegel, Sadana Agung, Irma Novita Rihi, Luisa Adreena, Pritt Timothy, Verdi Solaiman, dan Kiki Narendra.

Kisah ayah dan anak di pusat cerita Gasigogi

Jiwa digambarkan sebagai ayah berhati mulia yang bersedia memberikan seluruh hidupnya demi menyelamatkan Juna. Cerita tentang pengorbanan itu menjadi pusat film, dengan penyakit yang dialami sang anak membawa keluarga tersebut ke dalam perjuangan yang berat.

Lee menyebut kisah Jiwa sebagai cerita tentang pengorbanan seorang ayah. Ia ingin menghadirkan film yang jujur dan menyentuh, sekaligus membuat penonton merenungkan hubungan mereka dengan keluarga.

“Tujuan saya sederhana: saya ingin membuat sebuah film yang begitu jujur dan menyentuh, sehingga ketika kredit film berakhir, hal pertama yang ingin dilakukan penonton adalah menelepon ayah mereka,” kata Lee.

Bagi Vino, dipercaya memainkan tokoh utama dalam cerita tersebut merupakan kehormatan sekaligus tantangan emosional. Ia mengatakan siap mencurahkan seluruh perasaan untuk menghidupkan kisah pengorbanan seorang ayah di layar lebar.

Pevita menilai kekuatan cerita dan kedalaman emosinya dapat membuat film ini terasa dekat dengan penonton. Menurut dia, kisah tersebut menyentuh sisi kemanusiaan yang personal.

Makna ikan stickleback di balik judul film

Judul sementara Gasigogi diambil dari nama ikan dalam bahasa Korea yang merujuk pada stickleback Amur, ikan kecil dari famili Gasterosteidae atau ikan punggung duri. Spesies ini dapat ditemukan di perairan tawar, payau, maupun laut, dan tersebar di Asia Timur, terutama Semenanjung Korea, Jepang, serta China.

Inspirasi utamanya terletak pada perilaku ikan jantan dalam menjaga keturunannya. Setelah ikan betina pergi, pejantan merawat sarang dan telur sendirian. Ia juga mengusir predator dan terus melindungi telur-telurnya hingga kelelahan.

Dalam gambaran yang menjadi dasar metafora film, pengorbanan itu mencapai titik ketika tubuh pejantan yang sudah tak mampu bertahan menjadi makanan pertama bagi anak-anaknya. Lee dan tim produksi mengaitkan perilaku tersebut dengan kasih sayang orang tua yang rela berkorban demi anak.

Judul tersebut dengan demikian tidak hanya menjadi nama film, tetapi juga isyarat mengenai tema yang diangkat. Hubungan antara ikan penjaga telur dan perjuangan Jiwa mempertegas gambaran cinta orang tua yang diwujudkan melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata.

Lee Hwan-kyung membawa cerita ke Indonesia

Lee dikenal sebagai sutradara film Korea Selatan Miracle in Cell No. 7 versi asli yang dirilis pada 2013. Ia juga menggarap versi Indonesia dari film tersebut. Lewat Gasigogi, Lee kembali bekerja dengan Falcon Pictures, tetapi menegaskan bahwa film ini bukan sekadar mengulang formula emosional karya Korea.

Menurut Lee, cerita ini tumbuh dari kehidupan masyarakat Indonesia. Nilai keluarga, keyakinan, dan ikatan sosial yang kuat menjadi bagian penting dari latar yang ingin dibangun. Film ini pun mengusung kisah baru dengan latar Indonesia, bukan hanya memindahkan formula cerita dari negara lain.

Produser Falcon Pictures, Frederica, menyambut kolaborasi tersebut dan menyatakan antusiasmenya untuk mewujudkan cerita yang menyentuh. Pihak produksi berharap film ini meninggalkan kesan mendalam bagi penonton dan menjadi karya berkesan bagi perfilman Indonesia.

Dengan proses produksi yang masih berlangsung, jadwal penayangan Gasigogi belum diumumkan. Untuk saat ini, perhatian tertuju pada bagaimana kisah Jiwa dan Juna akan diterjemahkan ke layar lebar, serta bagaimana latar dan nilai-nilai Indonesia membentuk perjalanan emosional keluarga tersebut.

Duniafakta