Dosen Poltekkes Gorontalo Edukasi Lansia Cegah Diabetes

Dosen Poltekkes Kemenkes Gorontalo dan Puskesmas Pilolodaa memberikan edukasi pencegahan diabetes tipe 2 kepada lansia. Materi mencakup pola makan, faktor risiko, dan aktivitas fisik.

dosen-poltekkes-gorontalo-edukasi-lansia-cegah-diabetes

Dosen Poltekkes Kemenkes Gorontalo bersama Puskesmas Pilolodaa mengedukasi warga lanjut usia tentang pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Kota Gorontalo, 5 Agustus 2026. Kegiatan ini membahas faktor risiko, pilihan pola makan yang lebih sehat, serta aktivitas fisik yang dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing peserta.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut dirancang untuk mendekatkan informasi kesehatan dan gizi kepada lansia. Tim menilai edukasi diperlukan karena pengetahuan sebagian masyarakat mengenai pencegahan dan pengelolaan diabetes masih terbatas, sementara penerapan kebiasaan sehat sehari-hari juga dapat menjadi tantangan.

Edukasi diabetes lansia disesuaikan dengan kebutuhan peserta

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang berkaitan dengan gangguan pengaturan kadar gula darah. Sejumlah faktor, termasuk pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan individu, berhubungan dengan risiko penyakit ini. Karena itu, pemahaman mengenai kebiasaan hidup sehat menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan dan pengendalian faktor risiko.

Kegiatan dipimpin Denny Indra Setiawan, M.Gizi, dengan anggota tim R. Ayu Cahyaning Alam, S.Gz, M.Si dan Fatmayanti Nawai, S.Gz, M.Gizi. Ketiganya berasal dari Poltekkes Kemenkes Gorontalo dan menyampaikan materi melalui pendekatan edukatif yang disesuaikan dengan karakteristik peserta lanjut usia.

Peserta mendapat penjelasan mengenai diabetes tipe 2 dan faktor risikonya, termasuk cara memilih pola makan yang lebih sehat. Materi juga menekankan pentingnya aktivitas fisik yang sesuai dengan kemampuan individu. Diskusi dan pendampingan melengkapi penyuluhan agar peserta dapat mengaitkan informasi dengan kebiasaan yang dijalani sehari-hari.

Pesan yang dibawa dalam kegiatan ini berfokus pada langkah-langkah sederhana: mengatur konsumsi makanan, memilih bahan pangan yang sesuai, dan membiasakan aktivitas fisik. Tim berharap upaya tersebut dapat dipraktikkan oleh peserta dengan dukungan keluarga serta tenaga kesehatan.

Puskesmas Pilolodaa dampingi jalannya kegiatan

Puskesmas Pilolodaa menjadi mitra dalam pelaksanaan program. Perannya mencakup koordinasi kegiatan, penentuan sasaran, penyediaan tempat, serta pendampingan peserta. Tenaga kesehatan dan kader juga mendukung edukasi yang terhubung dengan pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk kegiatan Posyandu Lansia.

Tim turut memperhatikan kebutuhan peserta selama penyuluhan dan evaluasi. Sebagian lansia mengalami keterbatasan penglihatan serta kesulitan membaca atau menulis. Untuk membantu mereka, tim memberikan pendampingan saat pengisian instrumen evaluasi, dengan tetap memastikan jawaban yang dicatat berasal dari peserta sendiri.

Pendekatan tersebut membantu peserta mengikuti rangkaian kegiatan, sekaligus menjaga agar evaluasi tetap mencerminkan pemahaman mereka. Dukungan langsung juga menjadi bagian dari upaya membuat penyampaian informasi lebih mudah diakses oleh kelompok usia lanjut.

Evaluasi menunjukkan pemahaman peserta meningkat

Untuk melihat hasil edukasi, tim mengukur pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan melalui pre-test dan post-test. Laporan pelaksanaan menyebutkan adanya peningkatan pemahaman mengenai diabetes tipe 2 dan langkah pencegahannya setelah penyuluhan.

Namun, besaran peningkatan itu belum dapat dipastikan karena masih memerlukan verifikasi berdasarkan data evaluasi asli. Dengan demikian, laporan tersebut mencatat perubahan pemahaman secara umum, tanpa menyebutkan angka kenaikan yang terukur.

Kolaborasi perguruan tinggi dan puskesmas juga membuka peluang agar pesan pencegahan diabetes terus disampaikan dalam pelayanan rutin. Materi dan media penyuluhan dapat dimanfaatkan oleh petugas serta kader untuk mendukung edukasi berikutnya, khususnya bagi warga lanjut usia.

Upaya promotif dan preventif seperti ini menempatkan edukasi sebagai bagian dari pendampingan kesehatan di masyarakat. Keberlanjutannya akan bergantung pada dukungan tenaga kesehatan, kader, keluarga, dan kemauan peserta menerapkan kebiasaan sehat secara bertahap.

Duniafakta