Van Dijk Emosional Usai Catat 100 Caps untuk Belanda

Virgil van Dijk emosional setelah mencatat penampilan ke-100 bersama Belanda dalam kemenangan 2-1 atas Serbia. Ia berterima kasih kepada keluarga, skuad, dan staf.

van-dijk-emosional-usai-catat-100-caps-belanda

Virgil van Dijk tak kuasa menyembunyikan emosinya setelah Belanda mengalahkan Serbia 2-1. Laga itu menjadi penampilan internasional ke-100 bagi sang kapten, sebuah tonggak yang ia sebut sangat berarti dan dulu terasa terlalu jauh untuk dibayangkan.

Dalam wawancara dengan NOS seusai pertandingan, bek tengah tersebut mengaku sempat kesulitan menahan perasaan di ruang ganti. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada rekan setim, staf, dan keluarganya yang hadir pada malam istimewa itu.

Seratus penampilan yang tak pernah ia bayangkan

Van Dijk mengatakan dirinya sudah menyampaikan terima kasih kepada skuad dan staf di ruang ganti. Ia turut mengingat orang-orang yang pernah bekerja bersamanya. Namun, menurutnya, rasa terima kasih terbesar ia tujukan kepada keluarga.

“Saya sangat berterima kasih kepada skuad, kepada staf, dan para anggota staf yang pernah bekerja sama dengan saya di masa lalu. Namun pada akhirnya, saya paling berterima kasih kepada keluarga saya, yang malam ini juga hadir.”

Pengakuan itu disampaikan dalam suasana yang terasa personal. Van Dijk mengakui dirinya cukup emosional, terutama ketika momen seperti ini datang. Baginya, capaian seratus pertandingan bukan sekadar angka dalam catatan karier, melainkan kesempatan untuk menyadari perjalanan panjang yang telah ia lalui bersama tim nasional.

“Malam yang spesial, sebuah tonggak yang indah, dan tentu sesuatu yang sangat saya banggakan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seratus penampilan adalah sesuatu yang tidak pernah berani ia impikan ketika masih muda. Saat itu, menurut Van Dijk, pencapaian tersebut terasa terlalu jauh bahkan untuk dibayangkan.

Van Dijk ingin terus melanjutkan perjalanan

Meski menandai pencapaian penting, Van Dijk menegaskan bahwa penampilannya bersama Belanda tidak akan berhenti di angka seratus. Pernyataan itu menyertai rasa syukur yang ia sampaikan setelah kemenangan atas Serbia. Malam tersebut, dengan demikian, menjadi perayaan atas pencapaian sekaligus pengingat bahwa ia masih ingin melanjutkan kiprahnya.

Van Dijk tidak memisahkan momen pribadi itu dari hasil pertandingan. Belanda menang 2-1, sementara dirinya menjalani laga ke-100 dengan mengenakan ban kapten. Dalam wawancara, ia menyebut malam itu sebagai malam yang indah dan mengulang bahwa ia sangat bersyukur atas pencapaian tersebut.

Pengakuannya tentang suasana di ruang ganti memperlihatkan betapa kuat arti tonggak itu baginya. Ia mengatakan sempat kesulitan mengendalikan emosi, tetapi tidak merinci lebih jauh apa yang terjadi di sana. Yang ia sampaikan dengan jelas adalah rasa bangga dan terima kasih kepada orang-orang yang mendukungnya.

Xavi sebut Van Dijk sebagai teladan

Pelatih timnas Belanda, Xavi Hernández, juga menyampaikan apresiasi kepada Van Dijk di ruang ganti. Ia menyebut sang kapten sebagai teladan dan mengaku bangga dapat melatihnya. Pujian itu, menurut Xavi, didasari oleh kerja Van Dijk untuk dirinya sendiri maupun tim sejak pertemuan pertama mereka.

“Dia adalah pemimpin sejati, saya sangat bangga bisa menjadi pelatihnya,” kata Xavi.

Van Dijk dimainkan sebagai bek tengah kanan dalam pertandingan tersebut. Penempatan itu memberi ruang di sisi kiri favoritnya kepada Teun Koopmeiners, yang menjalani peran sebagai bek dadakan. Susunan tersebut menjadi salah satu catatan dari laga Belanda melawan Serbia.

Hans Kraay junior menilai pertandingan itu juga menjadi kali terakhir Van Dijk dan Koopmeiners membentuk duet di jantung pertahanan. Namun, perhatian utama seusai laga tertuju pada pencapaian sang kapten dan reaksinya di depan kamera. Di tengah kemenangan Belanda, seratus penampilan itu menjadi momen yang ia bagikan bersama keluarga, tim, dan staf.

Dengan menegaskan bahwa ia belum ingin berhenti di angka seratus, Van Dijk memberi isyarat bahwa perjalanan bersama Belanda masih berlanjut. Malam melawan Serbia akan dikenang sebagai tonggak personal yang emosional; kesempatan berikutnya akan menunjukkan bagaimana ia meneruskan peran sebagai pemimpin tim.

Duniafakta