Pemilu Israel Berubah Arah, Netanyahu Unggul Sementara

Penghitungan resmi sementara menempatkan koalisi Netanyahu di atas oposisi, tetapi kedua kubu masih kekurangan kursi untuk membentuk pemerintahan. Partai-partai Arab dan negosiasi koalisi berpotensi menentukan hasil akhir.

Penghitungan resmi sementara mengubah peta Pemilu Israel. Koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berada di atas blok oposisi yang dipimpin Gadi Eisenkot, meski belum ada kelompok yang mengantongi cukup kursi untuk membentuk pemerintahan sendiri.

Komite Pemilu Pusat Israel mencatat 41,9 persen tempat pemungutan suara telah dihitung hingga Rabu (28/10/2026) pukul 05.58 waktu setempat. Dalam posisi sementara itu, koalisi pro-Netanyahu meraih 57 kursi, sedangkan kubu oposisi memperoleh 47 kursi. Partai-partai Arab mengisi 16 kursi lainnya, menurut angka yang dilaporkan detikNews dengan mengutip Komite Pemilu Pusat.

Angka tersebut berbeda dari proyeksi awal setelah pemungutan suara ditutup. Karena itu, keunggulan yang muncul sekarang belum bisa dianggap sebagai hasil akhir.

Hasil hitung suara bergerak dari proyeksi awal

Tiga jaringan televisi Israel semula memperkirakan blok Eisenkot mendapat 52 kursi, dua lebih banyak daripada koalisi Netanyahu yang diproyeksikan memperoleh 50 kursi. CNBC Indonesia dan Bloomberg Technoz melaporkan proyeksi serupa. Namun, hasil dari sejumlah media Israel lainnya, termasuk Channel 14, memperkirakan kubu Netanyahu bisa mengamankan hingga 60 kursi.

Perbedaan itu mencerminkan ketatnya persaingan sekaligus sifat sementara hitung cepat. Data resmi yang baru mencakup sebagian tempat pemungutan suara dapat mengubah susunan kursi saat penghitungan berlanjut. Suara melalui amplop ganda, termasuk suara dari tentara, juga masih harus dihitung.

Dalam perhitungan sementara Komite Pemilu Pusat, Likud, partai yang menaungi Netanyahu, berada di urutan pertama dengan 28 kursi. Yashar, partai Eisenkot, menyusul dengan 21 kursi. Joint List diperkirakan mendapat 12 kursi, sementara koalisi oposisi B’Yachad yang dipimpin Naftali Bennett dan Yair Lapid meraih 11 kursi.

Sejumlah partai lain berada di kisaran empat hingga delapan kursi. Di antaranya Yisrael Beytenu dan United Torah Judaism, masing-masing delapan kursi; Shas, Partai Demokrat, Otzma Yehudit, dan Religious Zionism masing-masing tujuh kursi; serta Ra’am dengan empat kursi. Perolehan tersebut masih dapat bergeser.

Partai Arab menambah rumit jalan menuju mayoritas

Knesset memiliki 120 kursi. Untuk menguasai mayoritas dan membentuk pemerintahan, sebuah blok perlu memperoleh dukungan sedikitnya 61 anggota parlemen. Tidak ada satu partai pun yang pernah meraih jumlah itu sendirian, sehingga negosiasi dengan partai lain lazim menentukan siapa yang menjadi perdana menteri.

Posisi partai-partai Arab menjadi salah satu faktor kunci. Dalam proyeksi exit poll, kelompok tersebut diperkirakan mendapat 18 kursi, sedangkan hitungan resmi sementara menempatkan Joint List dan Ra’am dengan total 16 kursi. Perbedaan itu belum mengubah kenyataan bahwa kedua blok utama masih membutuhkan dukungan tambahan.

Peluang Eisenkot untuk merangkul partai-partai Arab menghadapi hambatan politik. CNBC Indonesia melaporkan bahwa ia hampir sepenuhnya menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama kelompok tersebut. Sikap itu membuat jalan menuju 61 kursi lebih sulit, sekalipun proyeksi awal menempatkan bloknya di depan.

Netanyahu juga belum kehilangan peluang bertahan. Jika proses negosiasi berlangsung lama dan tak menghasilkan koalisi baru, ia berpotensi tetap memimpin pemerintahan sementara. Partai-partai kecil yang berhasil melewati ambang batas suara 3,25 persen dapat menjadi penentu dalam perundingan.

Partisipasi pemilih mencapai tingkat tertinggi sejak 1999

Pemilu yang digelar Selasa (27/10) itu mencatat partisipasi 77,7 persen. Menurut Komite Pemilu Pusat, angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1999 dan naik 7,1 poin persentase dibandingkan pemilu 2022. Tingginya kehadiran pemilih belum menghasilkan pemenang yang jelas, tetapi memperbesar mandat politik yang akan diklaim masing-masing kubu.

Eisenkot, mantan kepala militer berusia 66 tahun, memimpin Yashar dan menjadi penantang utama Netanyahu. Ia masuk politik sekitar empat tahun lalu dan pernah bergabung dengan kabinet perang Netanyahu setelah serangan Hamas pada 2023. Delapan bulan kemudian, ia mundur setelah mengkritik kepemimpinan perdana menteri, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.

Komite Pemilu Pusat diperkirakan mengumumkan hasil resmi paling lambat 4 November. Sampai angka final tersedia, persaingan untuk menyusun pemerintahan berikutnya akan bergantung pada sisa penghitungan dan kesediaan partai-partai untuk berunding.

Duniafakta