IHSG Turun 1,42%, Pasar Menanti Keputusan The Fed

IHSG melemah 1,42 persen pada awal perdagangan Rabu setelah tekanan jual sehari sebelumnya. Investor menanti keputusan The Fed di tengah penurunan minat lelang SUN.

IHSG langsung melemah pada awal perdagangan Rabu (28/10/2026), sehari setelah pasar saham Indonesia dihantam tekanan jual. Indeks sempat berada di level 5.191,55, turun 1,42 persen atau 74,58 poin dari penutupan sebelumnya, menurut pantauan CNBC Indonesia. Investor kini menunggu keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, sembari mencermati lesunya minat terhadap surat utang pemerintah.

Pada pembukaan, IHSG berada di 5.249,07. Indeks sempat naik ke 5.255,67, tetapi tak lama kemudian kembali tertekan hingga menyentuh 5.190,31. Transaksi pada awal sesi mencapai 18,41 juta lot dengan nilai Rp779,84 miliar.

Angka penutupan perdagangan sehari sebelumnya berbeda dalam sejumlah laporan. CNBC Indonesia mencatat IHSG berada di 5.211,28 pada pukul 15.00 WIB, terkoreksi 3,01 persen. Sementara itu, KONTAN melaporkan indeks turun 1,99 persen ke 5.266. Perbedaan angka itu membuat pembacaan posisi awal Rabu perlu mempertimbangkan waktu pencatatan masing-masing laporan.

Sektor infrastruktur menjadi beban terbesar

Tekanan pada pembukaan Rabu paling terasa di sektor infrastruktur, yang turun 2,4 persen. Sektor teknologi terkoreksi 1,3 persen, sedangkan energi melemah 0,7 persen, berdasarkan data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia.

Saham BBRI, BMRI, TLKM, BREN, dan MORA termasuk yang membebani indeks. Sejumlah emiten lain, di antaranya BBCA, AMMN, TPIA, MDKA, dan PGAS, juga tercatat menekan pergerakan IHSG.

Pelemahan itu melanjutkan tekanan yang tampak pada perdagangan Selasa. Dalam laporan CNBC Indonesia pada pukul 14.29 WIB, sektor infrastruktur turun 5,8 persen, sementara teknologi merosot 2,9 persen dan energi melemah 2,2 persen. Pada pembaruan pukul 15.00 WIB, infrastruktur tercatat jatuh 6 persen dan material dasar terkoreksi 3,5 persen.

Pergerakan Selasa juga menunjukkan tekanan jual yang membesar setelah indeks sempat menguat ke 5.418,14 pada pagi hari. IHSG berbalik turun menjelang pukul 10.00 WIB dan merosot lebih tajam sekitar pukul 14.00 WIB. Saham BBRI, BMRI, TLKM, BYAN, dan BREN masuk dalam daftar pemberat pada laporan sore CNBC Indonesia.

Keputusan The Fed jadi perhatian investor

Pelaku pasar menanti pengumuman kebijakan The Fed yang dijadwalkan pada Rabu waktu Amerika Serikat, atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB. Konferensi pers menyusul setengah jam kemudian. Konsensus memperkirakan suku bunga dipertahankan pada kisaran 3,75 hingga 4 persen, setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September.

Perhatian investor bukan semata pada keputusan suku bunga. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja juga akan dicermati, termasuk petunjuk tentang arah kebijakan berikutnya. Sikap yang lebih ketat dapat menguatkan dolar AS dan menekan aset berisiko, sedangkan sinyal inflasi mereda bisa mengubah penilaian pasar terhadap prospek suku bunga.

Bagi Indonesia, arah kebijakan moneter AS berpotensi memengaruhi rupiah dan arus modal asing. Karena itu, keputusan The Fed menjadi salah satu faktor yang dapat menentukan minat investor terhadap saham domestik dalam waktu dekat.

Permintaan SUN menyusut, imbal hasil naik

Tekanan lain datang dari lelang Surat Utang Negara pada Selasa (27/10). Penawaran yang masuk hanya Rp31,09 triliun, turun 52,1 persen dari lelang sebelumnya dan menjadi yang terendah sejak November 2024. Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun, lebih rendah daripada target indikatif Rp30 triliun.

Di saat permintaan melemah, imbal hasil rata-rata tertimbang SUN bertenor sekitar 10 tahun naik menjadi 7,54 persen. Angka itu merupakan yang tertinggi sejak November 2022, naik 30 basis poin dalam dua pekan dan sekitar 147 basis poin dibandingkan awal 2026. Kondisi tersebut mengindikasikan tekanan pada pembiayaan pemerintah serta dapat meningkatkan biaya penerbitan utang baru.

Pasar juga mencermati perkembangan ekonomi China. Laba industri negara itu tumbuh 15,5 persen secara tahunan menjadi 6,03 triliun yuan selama Januari-September 2026, sedikit lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 15,7 persen pada delapan bulan pertama. Kinerja manufaktur berteknologi tinggi dan industri terkait kecerdasan buatan menopang pertumbuhan, meski permintaan domestik China masih menjadi beban bagi sejumlah sektor.

Pergerakan pasar selanjutnya akan ditentukan oleh respons investor terhadap keputusan The Fed dan perkembangan aliran dana di pasar surat utang. Pelaku pasar domestik juga menghadapi sentimen dalam negeri, termasuk aksi demonstrasi mahasiswa yang disebut membayangi perdagangan hari itu.

Duniafakta