Pemilu Israel Catat Partisipasi Tertinggi Sejak 1981
Partisipasi awal Pemilu Israel mencapai 16,68 persen, tertinggi untuk tahap yang sama sejak 1981. Namun, jajak pendapat belum menunjukkan kubu mana yang mampu membentuk mayoritas.
Partisipasi pemilih dalam Pemilu Israel mencapai 16,68 persen pada tiga jam pertama pemungutan suara, Selasa, 27 Oktober 2026. Angka awal itu menjadi yang tertinggi untuk periode yang sama sejak 1981, ketika negara tersebut terakhir mencatat tingkat kehadiran pemilih setinggi itu pada tahap awal pemungutan suara.
Komisi Pemilu Pusat Israel mencatat lebih dari 1,2 juta orang telah memberikan suara hingga pukul 10.00 waktu setempat. Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Komisi Pemilu Pusat, Dean Livne, dalam pernyataan yang disiarkan televisi. DetikNews melaporkan angka itu dengan mengutip Reuters dan AFP.
Tingginya partisipasi terjadi dalam pemilu yang dinilai menentukan arah kepemimpinan Israel. Pemungutan suara ini menjadi ujian bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pemimpin yang paling lama menjabat di negara itu, sekaligus bagi Gadi Eisenkot, penantang utamanya yang pernah memimpin militer Israel.
Pemungutan suara di tengah perang
Pemilu legislatif kali ini merupakan pemilihan pertama sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Peristiwa itu diikuti serangan militer Israel di Jalur Gaza dan konfrontasi dengan Hizbullah di Lebanon serta Iran. Situasi tersebut membuat pemungutan suara berlangsung di tengah konflik yang masih membayangi kehidupan politik dan keamanan Israel.
Sejumlah pemilih menyebut pemilu ini sebagai salah satu yang paling menentukan dalam sejarah negara tersebut. Namun, belum ada hasil yang dapat memastikan siapa yang akan memimpin pemerintahan berikutnya. Angka partisipasi awal hanya menggambarkan jumlah warga yang telah memberikan suara, bukan arah pilihan mereka.
Pemungutan suara dibuka pukul 07.00 dan dijadwalkan berakhir pukul 22.00 waktu setempat. Hari pemilu ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sekitar 7,3 juta orang tercatat memiliki hak pilih, termasuk kurang lebih 1,2 juta warga Israel keturunan Palestina. Lebih dari setengah juta pemilih akan menggunakan hak pilih untuk pertama kali.
Untuk melayani pemilih, tersedia 12.018 tempat pemungutan suara di berbagai wilayah, dengan sekitar 18.000 kotak suara. Skala penyelenggaraan itu mencerminkan besarnya pemilihan yang memperebutkan 120 kursi parlemen atau Knesset.
Oposisi dan koalisi sama-sama belum aman
Persaingan politik masih ketat. Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan tiga stasiun televisi utama Israel memproyeksikan kubu oposisi yang dipimpin Eisenkot meraih 52 hingga 56 kursi. Sementara itu, koalisi sayap kanan dan religius yang dipimpin Netanyahu diperkirakan memperoleh sekitar 50 kursi.
Kedua kubu masih berada di bawah ambang 61 kursi yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan mayoritas. Dengan total 120 kursi, jumlah kursi terbanyak pun tidak otomatis memastikan seorang tokoh menjadi perdana menteri. Dukungan partai lain dan proses negosiasi setelah pemungutan suara akan menentukan siapa yang memiliki peluang membentuk pemerintahan.
Partai-partai yang dipimpin tokoh dan politisi keturunan Palestina diproyeksikan menguasai 14 hingga 16 kursi. Perolehan mereka berpotensi menentukan keseimbangan dukungan di parlemen, meski hasil akhir dan keputusan koalisi belum diketahui. Karena itu, lonjakan partisipasi pemilih belum menjawab persoalan utama pemilu: apakah Netanyahu dapat mempertahankan kekuasaan atau Eisenkot mampu menggalang dukungan yang cukup.
Pemilu tepat waktu setelah puluhan tahun
Pemilu ini juga memiliki arti kelembagaan. Menurut laporan detikNews, pemungutan suara tersebut menjadi pemilu pertama yang digelar tepat pada waktunya sejak 1988. Selama puluhan tahun, pemerintahan Israel silih berganti runtuh sebelum menyelesaikan masa jabatan empat tahun.
Koalisi sayap kanan Netanyahu menghadapi perpecahan di dalam negeri dan tekanan berupa pengucilan internasional. Netanyahu membela rekam jejaknya dengan menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang mampu menghadapi musuh-musuh Israel. Eisenkot, mantan kepala staf militer yang berhaluan keras dalam urusan keamanan, berusaha menghimpun dukungan partai-partai dari spektrum kanan dan tengah serta kelompok kiri yang tersisa.
Hasil pemungutan suara dan perundingan antarkubu akan menjadi penentu setelah tempat pemungutan suara ditutup. Dengan proyeksi yang belum menempatkan satu pihak pada ambang mayoritas, pembentukan pemerintahan diperkirakan bergantung pada kesepakatan politik di Knesset.