MSCI Picu Arus Keluar Dana Asing, BI Siapkan Respons
BI mengakui dana asing keluar dari saham, SBN, dan SRBI setelah MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar Indonesia. Bank sentral menyiapkan DNDF dan intervensi spot untuk menjaga rupiah.
Bank Indonesia mengakui arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia setelah MSCI menerbitkan dokumen konsultasi yang mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Tekanan tercatat tidak hanya di pasar saham, tetapi juga pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan arus masuk dana sebelumnya masih cukup baik sejak akhir September hingga pertengahan Oktober 2026. Situasi berubah setelah MSCI merilis consultative paper pada Jumat, 16 Oktober.
“Kita memang mengamati ada outflow di pasar saham sejak rilis konsultatif paper (MSCI) pada Jumat. Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow,” kata Erwin dalam taklimat media di kantor pusat BI, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
BI belum mengungkap nilai dana asing yang keluar
BI tidak menyampaikan angka pasti mengenai besarnya arus keluar tersebut. Erwin mengatakan bank sentral mengamati pergerakan dana di sejumlah instrumen, tetapi tidak merilis nilai outflow yang terjadi setelah pengumuman MSCI.
Meski demikian, BI memastikan likuiditas rupiah di dalam negeri berada dalam kondisi cukup untuk mendukung transaksi di pasar modal, SBN, maupun SRBI. Ketersediaan likuiditas menjadi salah satu perhatian ketika investor menyesuaikan portofolio dan arus dana bergerak keluar.
Tekanan ini muncul setelah periode aliran masuk yang didorong, antara lain, oleh kebijakan insentif BI sejak Juni. Erwin menyebut aset rupiah yang masuk hingga periode tersebut mencapai sekitar Rp137 triliun-Rp138 triliun. Sekitar Rp85 triliun berasal dari SRBI dan Rp53 triliun dari SBN.
Pada periode yang sama, transaksi swap tercatat hampir US$8,4 miliar, sedangkan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) sekitar US$1,4 miliar. Angka-angka itu menggambarkan arus masuk sebelum sentimen MSCI mengubah arah pergerakan dana, bukan besaran dana yang kemudian keluar.
Perkiraan tekanan jual ETF memiliki cakupan berbeda
Risiko penyesuaian portofolio juga menjadi perhatian pelaku pasar. Kompilasi CNBC Indonesia terhadap kepemilikan 34 ETF berbasis indeks MSCI mencatat saham Indonesia senilai US$1,88 miliar, atau sekitar Rp34 triliun, berdasarkan data holdings per 15 Oktober 2026.
Nilai tersebut merupakan potensi saham yang dapat dilepas apabila seluruh posisi dalam sampel harus dikeluarkan untuk mengikuti perubahan klasifikasi. Namun, angka itu bukan nilai pasti arus keluar yang sudah terjadi. Nilai penjualan aktual akan bergantung pada harga saham, kurs, perubahan kepemilikan, serta ketentuan dan waktu penerapan keputusan MSCI.
Estimasi tersebut juga belum mencakup seluruh produk pasif global. UBS sebelumnya memperkirakan perubahan status Indonesia menjadi standalone dapat memicu sekitar US$4 miliar arus keluar dana pasif. Cakupan kedua perhitungan berbeda, sehingga angka UBS tidak dapat langsung ditambahkan ke nilai US$1,88 miliar dari sampel ETF.
Usulan perubahan klasifikasi itu masih menjadi sumber ketidakpastian bagi investor. Karena itu, besaran kepemilikan ETF saja belum cukup untuk memastikan dampaknya terhadap indeks saham. Tekanan akan dipengaruhi saham yang dijual, bobotnya dalam indeks, kecepatan pelepasan, likuiditas, dan kemampuan investor lain menyerap pasokan.
BI siapkan DNDF dan intervensi spot
BI menyiapkan sejumlah instrumen apabila arus keluar dana merambat ke nilai tukar rupiah. Jika tekanan masih dapat dikelola melalui transaksi DNDF, bank sentral dapat menggunakan instrumen itu untuk membantu menjaga risiko nilai tukar. Jika investor membutuhkan valuta asing dan ingin keluar pada hari yang sama, BI dapat melakukan intervensi di pasar spot.
Erwin menilai pergerakan rupiah sejauh ini masih dapat dikelola. Rupiah sempat melemah hingga di atas Rp18.000 per dolar AS, tetapi menurut BI pergerakannya belum berlebihan. Bank sentral berharap guncangan pasar akibat sentimen MSCI mereda secara bertahap.
Di sisi lain, BI melanjutkan pengurangan likuiditas yang diserap melalui SRBI. Posisi instrumen tersebut pernah mencapai sekitar Rp1.070 triliun dan kini berada di kisaran Rp900 triliun. Erwin menyebut likuiditas yang telah dilepas dibandingkan posisi tertinggi mencapai sekitar Rp150 triliun.
Pengurangan penerbitan SRBI akan dilakukan bertahap dan terukur, dengan mempertimbangkan dinamika pasar. BI ingin menjaga keseimbangan antara likuiditas yang terserap dalam instrumen berjangka panjang dan dana yang tersedia untuk kebutuhan jangka pendek serta menengah.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada keputusan MSCI dan respons investor terhadapnya. Sementara itu, BI menyatakan akan menjaga likuiditas rupiah dan memantau pergerakan valuta asing; pelaku pasar perlu membedakan potensi penjualan berdasarkan kepemilikan ETF dari arus keluar yang telah terkonfirmasi.